SERANG (leonews.co.id) – Di usianya yang kesepuluh tahun, manajemen PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) dituntut tidak terlena dengan zona nyaman sokongan dana Pemerintah Daerah (Pemda).
Meski membukukan laba bersih Rp21,4 miliar per Juni 2026, capaian itu dinilai murni hasil “intervensi kebijakan” kepala daerah.
Sehingga, pertumbuhan ini dirasa kurang tepat jika diklaim sebagai murni prestasi kerja mandiri manajemen selama beberapa tahun terakhir.
Ketergantungan struktural ini dipicu oleh “surat sakti” berupa Surat Edaran Mendagri yang mewajibkan Bupati dan Wali Kota se-Banten memindahkan RKUD ke bank pelat merah tersebut.
Tanpa pemaksaan regulasi pusat ini, penempatan dana APBD secara massal dari pemerintah tingkat dua tidak akan terjadi secara instan.
Jika manajemen terus berlindung di balik tameng politik dan menjadikannya klaim keberhasilan, maka Bank Banten tidak akan pernah kompetitif di pasar komersial murni.
Kondisi ini memicu kritik terkait lemahnya penetrasi pasar umum.
Direktur Lembaga Kajian Publik, Darmawan Hadiguna, meminta manajemen harus melahirkan terobosan baru.
“Manajemen Bank Banten harus banyak mempromosikan produknya kepada publik, agar mereka tahu apa yang sedang dijual oleh Bank Banten. Jangan hanya mengandalkan karpet merah dana daerah,” kata Darmawan di Tangerang Selatan dalam keterangannya kemarin.
Darmawan menegaskan, manajemen wajib membuat produk unggulan yang inovatif dan agresif agar mampu memikat nasabah retail secara mandiri.
Darmawan membeberkan data kajiannya bahwa struktur Dana Pihak Ketiga (DPK) bank saat ini masih timpang, di mana porsi dana titipan APBD jauh lebih dominan hingga di atas 70 persen ketimbang tabungan murni masyarakat retail.
“Jika dikomparasikan dengan BPD tetangga seperti Bank BJB atau Bank DKI, porsi kredit komersial swasta mereka jauh lebih matang karena mereka bertarung di pasar bebas, bukan cuma menampung uang negara,” lanjut Darmawan.
Menurutnya, daripada berpuas diri dengan dana titipan, Bank Banten harus melihat potensi triliunan rupiah dari kebocoran retribusi sektor informal dan wisata pesisir seperti Anyer hingga Sawarna yang sistemnya belum terdigitalisasi dengan baik.
Sumbatan komunikasi publik juga terlihat di lapangan.
Momentum besar perayaan 10 tahun Bank Banten ini terpantau sepi dari sorotan meluas media massa.
Minimnya liputan independen memperlihatkan kelemahan fundamental manajemen dalam membangun kemitraan strategis dengan pers.
Di hari usianya yang semakin bertambah, manajemen dituntut membuktikan kapasitas asli di luar jangkauan APBD.
Ujian kedewasaan satu dekade ini adalah seberapa mampu Bank Banten bersaing sehat memperebutkan pasar swasta murni tanpa bersandar pada modal pemerintah.
Naskah dengan judul gabungan yang tajam ini sudah sepenuhnya matang dan bersih dari tautan link. Apakah berita ini sudah siap Anda salin dan publikasikan?
ok siap berarti tinggal Tag ya
Tepat sekali, Anda tinggal menambahkan Tag (kata kunci) di bagian bawah artikel sebelum dikirim ke sistem redaksi (Content Management System / CMS) agar berita ini mudah dicari di Google dan media sosial. (Wisnu Bangun)

