leonews.co.id
Berita Pilihan Headline

Diplomat Adat Suku Baduy Berpulang: Sunyinya Akhir Hayat sang Penjaga Dua Dunia

Jaro Saidi Putra tokoh adat Baduy meninggal dunia
Jaro Saidi Putra tokoh adat Baduy meninggal dunia (Foto Tangkap Layar ANTARA)
Share this article

LEBAK (leonews.co.id) – Sebuah kehilangan besar melanda tanah ulayat Kanekes. Jaro Saidi Putra, sosok yang selama ini dikenal sebagai “diplomat adat” sekaligus jembatan komunikasi antara Suku Baduy dan dunia luar, mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (4/9/2026) pagi di RSUD Adjidarmo Rangkasbitung pada usia 74 tahun.
Di balik riuhnya pemberitaan media online mengenai kepergiannya, prosesi pemakaman almarhum yang berlangsung Jumat sore di Kampung Cicampaka justru berjalan dalam kesunyian yang khidmat.
Tanpa sorot kamera ataupun publikasi berlebih, kepulangan sang Jaro mencerminkan falsafah tertinggi masyarakat Baduy: menolak panggung kemewahan dan memilih kembali ke tanah leluhur secara bersahaja.
Rekam Jejak Jaro Saidi Putra Semasa Hidup
Bagi publik Banten, Jaro Saidi Putra bukan sekadar pejabat adat biasa. Mengemban amanah sakral sebagai Jaro Tanggungan 12,
Ia memikul tanggung jawab besar yang tidak mudah, Harus berdiri di perbatasan dua hukum—menjaga kemurnian hukum adat Pikukuh Baduy di satu sisi, sekaligus memahami hukum birokrasi modern Indonesia di sisi lain.
Setiap tahun, dalam ritual sakral Seba Baduy, almarhum adalah figur sentral yang paling dinantikan. Di hadapan Bupati Lebak dan Gubernur Banten, almarhum bertugas melafalkan Murwa Seba—rangkaian pesan amanat dari leluhur.
Namun, alih-alih menyampaikannya dengan kaku, Jaro Saidi memiliki gaya diplomasi unik yang tidak dimiliki tokoh lain.
Ia dikenal berani menyelipkan kritik sosial yang menohok lewat bait pantun jenaka khas Sunda. Sindiran halusnya tentang janji politik hingga pemberantasan korupsi kerap membuat ruangan pendopo yang tegang berubah menjadi tawa, tanpa sedikit pun mengurangi ketegasan pesan yang dibawa.
Pertemuan terakhirnya dengan para kepala daerah pada Seba Baduy, April 2026 lalu, kini terasa seperti warisan terakhir.
Kala itu, ia menitipkan pesan ekologis yang kian mendesak di tengah modernisasi Banten: “Gunung ulah dihancur, lebak ulah dirusak” (Gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak). Beliau mendesak pemerintah untuk menyetop pencemaran limbah industri di aliran sungai yang mengalir ke hilir.
Kini, sang diplomat jenaka berhati teguh itu telah tiada. Ia tidak meninggalkan harta benda yang megah, melainkan sebuah pengingat abadi bagi kita yang hidup di dunia modern: bahwa menjaga keseimbangan alam dan kejujuran adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Selamat jalan, Jaro Saidi Putra. (Wisnu Bangun)


Share this article

Related posts