Oleh: Wisnu Bangun
PANDEGLANG (leonews.co.id) – Tiga Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan belasan armada rescue saat ini tengah membelah ombak Selat Sunda.
Mereka menyisir wilayah laut seluas 4.600 nautical mile persegi (NM²).
Namun hingga hari keenam, Minggu (13/9/2026), tim gabungan belum melihat tanda-tanda kehidupan dari delapan korban yang hilang.
Kondisi ini memicu suasana sunyi yang menyayat hati di Dermaga Carita. Gubernur Banten, Andra Soni, bahkan tak mampu membendung air matanya saat mengunjungi posko utama.
Air mata gubernur menetes ketika ia mengenang momen hangat malam sebelum kejadian.
Saat itu, ia sempat duduk melingkar dan bercanda lepas dengan empat jurnalis nasional yang kini hilang.
Kepala Biro Adpim Setda Banten, Arif Agus Rakhman, membenarkan duka mendalam sang gubernur.
Arif menceritakan bahwa Bapak Gubernur sangat terpukul karena kedekatan emosional malam sebelum kejadian.
Sebagai respons nyata, Gubernur langsung menggerakkan dinas medis dan menyediakan penginapan hotel bagi keluarga korban.
Sandal Jepit yang Putus dan Firasat yang Ditinggalkan
Kesedihan di Dermaga Carita kian menguras air mata ketika kerabat mulai mengumpulkan barang-barang pribadi milik kru kapal yang tertinggal di darat.
Di sudut posko, sepasang sandal jepit milik nakhoda kapal, Warta, tampak sunyi. Warta sengaja meninggalkan sandal tersebut beberapa menit sebelum kapal Arupadhatu 1 lepas sauh karena talinya mendadak putus.
Firasat kecil ini kini menyisakan duka mendalam bagi keluarganya.
Kepiluan lain datang dari tangkapan layar pesan singkat terakhir milik M. Bagus Khoirunas, jurnalis LKBN ANTARA, kepada ibunya.
Sesaat sebelum kapal menerjang ombak, Bagus mengirimkan foto laut dengan kalimat sederhana: “Mak, Bagus jalan liputan ke Krakatau dulu ya. Pulang dari sini nanti kita makan durian bareng di Serang.
Janji hangat seorang anak kepada ibunya itu kini menggantung di antara gulungan ombak Selat Sunda.

KETUK PINTU LANGIT:
Di tengah harapan kecil keluarga, otoritas tim SAR gabungan bersama Polda Banten segera meluruskan informasi simpang siur di lapangan.
Petugas resmi menganulir kabar temuan beberapa jaket pelampung (life jacket) berwarna oranye dan merah serta helm yang sempat mengapung di perairan selatan.
Setelah melakukan pemeriksaan ketat, petugas mengonfirmasi barang tersebut bukan milik kapal Arupadhatu 1 maupun barang jurnalis.
Otoritas mengimbau agar publik tidak menyebarkan spekulasi liar demi menjaga kondisi psikologis keluarga.
Data BMKG: Hantaman Ombak Ekstrem 4 Meter,
Data terbaru dari BMKG Maritim Lampung semakin mempertegas situasi mencekam saat insiden hilang kontak terjadi pada Senin (7/9) lalu.
Prakirawan cuaca mencatat bahwa perairan Selat Sunda bagian selatan kala itu tengah menghadapi gelombang tinggi ekstrem mencapai 2,5 hingga 4 meter.
BMKG sebenarnya sudah mengeluarkan peringatan bahaya pelayaran satu hari sebelum rombongan berangkat. Sementara pada hari keenam pencarian ini, tinggi gelombang dilaporkan mulai melandai di rentang 0,5 sampai 2,5 meter, meskipun arus bawah laut masih bergerak sangat kencang.
Gerakan Pintu Langit dan Bahu-Membahu Kaum Nelayan
Ketidakpastian di tengah laut justru melahirkan solidaritas luar biasa dari masyarakat darat. Ratusan nelayan lokal dari pesisir Banten dan Pulau Sebesi secara sukarela menurunkan puluhan perahu tradisional.
Berbekal pengetahuan navigasi lokal, para nelayan ini bahu-membahu bersama armada KRI militer (KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, KRI Lepu-861) untuk menyisir setiap sudut karang.
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan langsung Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) untuk menerjunkan kekuatan penuh armada laut militer.
Di sisi lain, organisasi profesi seperti PWI, AJI, IJTI, hingga PFI di berbagai daerah bergerak serentak mengetuk pintu langit. Komunitas kuli tinta di Serang, Jakarta, hingga Bandung menggelar pengajian dan membacakan Yasin.
Mereka berharap mukjizat keselamatan menyertai kelima rekan sejawat dan tiga awak kapal yang sedang hilang.

