leonews.co.id
Berita Pilihan Headline

Ribuan Hewan Ternak di Jawa Timur dan Aceh Diserang Virus Menular

Share this article

leonews.co.id  – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang menyerang hewan berkuku genap atau berkuku belah merebak di dua wilayah di Indonesia. Wilayah tersebut, masing – masing Jawa Timur, yakni  Kabupaten Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan Mojokerto, Serta wilayah Provinsi Aceh.

Di wilayah Jawa Timur, per 10 Mei 2022 dikabarkan virus tersebut, telah   menginfeksi sekitar 2.000 hewan ternak. Sedangkan di Wilayah Provinsi Aceh, yakni Aceh Tamiang dan Aceh Timur dikabarkan terdapat  1200 sapi terserang wabah yang sama.

Kendati virus ini, tidak membahayakan bagi kesehatan manusia, namun dapat menimbulkan kerugian bagi petani ternak, karena akan menurunkan jumlah produksi. Para petani ternak terancam akan mengalami bangkrut, karena penularan virus ini sangat cepat.

Umumnya hewan yang terserang virus tersebut, antara lain, sapi, kerbau, unta, kambing, domba, rusa dan babi. “Wabah ini kadang disebut, wabah sapi karena banyak menyerang hewan berkuku belah tersebut,” kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, dalam siaran tertulisnya, Kamis 19 Mei 2022.

Menurut Laksana, biasanya sapi yang terserang virus ini, akan mengalami demam. Saat bersamaan,  sapi yang terjangkit, akan mengalami blister di mulut dan air liur kental. Sedangkan bagi hewan yang masih muda, wabah jenis ini cukup serius karena akan menimbulkan kerugian produksi yang sangat tinggi.

Hewan yang terkena wabah ini, menunjukkan gejala klinis patogonomonik. Gejala itu berupa  vesikel atau lepyh dan erosi di mulut, lidah, gusi, nostril, puting, dan di kulit sekitar kuku.

Untuk penanganannya, kata Laksana, dibutuhkan vaksin yang berbeda untuk hewan ternaknya, di masing-masing Negara sesuai dengan serotipe yang ada di negara tersebut. Setiap negara Menurut World Organisation for Animal Health, wabah PMK diperkirakan menyebar pada sekitar 77 persen populasi hewan ternak di Afrika, Timur Tengah, Asia, dan sebagian Amerika Selatan.

Kecepatan penularan Virus ini bisa melalui napas, air liur, mukus, susu dan feses. Hewan yang terserang Virus ini, sangat tersiksa, karena Blister atau kantung besar berisi air yang berkembang di kulit hewan yang terserang, jika pecah akan meninggalkan luka terbuka yang sangat perih.

Bahkan luka ini membutuhkan waktu hingga 10 hari untuk sembuh. Jika luka ini terjadi di bagian kaki, maka akan membuat sapi sulit berjalan menuju tempat makan. Tidak hanya itu, jika luka tersebut berada pada mulut, maka akan membuat sapi tidak mau makan dan minum.

Sapi dewasa mungkin akan mulai makan setelah beberapa hari. Namun, sapi atau hewan ternak lain yang masih muda akan mati lemas akibat tidak mendapatkan asupan yang cukup selama sakit.

Untuk mengantisipasi keadaan yang lebih buruk, terhadapa kesehatan hewan ternak itu, pihak Kementerian Pertanian Syahrul Yasin Limpo menetapkan dua provinsi itu,  sebagai daerah darurat wabah penyakit mulut dan kuku pada hewan (PMK). “ Upaya ini dilakukan agar wabah PMK terkendali dan tidak terjadi mutasi yang berlebihan,” katanya.

Menurut Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh P Indi Dharmasanti mengatakan, jika PMK ini ditangani secara serius, akan menimbulkan risiko kerugian yang cukup serius, terutama dalam aspek ekonomi. Halini disebabkan karena penurunan nilai jual dan produk hewan ternak, serta keuangan dalam hal pengendaliannya yang kompleks. Indi menyebutkan, untuk menangani kasus wabah PMK di Indonesia, diprediksi membutuhkan sekitar 9,9 triliun rupiah per tahun.

“Bahkan angka ini bisa lebih tinggi,” ucapnya. Penyakit ini sangat menular dan masih terjadi di banyak negara di dunia, “ tegasnya.

Editor    : Wisnu Bangun

 


Share this article

Related posts