leonews.co.id
Berita Pilihan

Agustus,  Corona Semakin Mengganas

IGD Rumah Sakit Jepara. (Foto Inews)
Share this article

SERANG (leonews.co.id) – Corona semakin mengganas. Setiap rumah sakit di tanah air, tidak saja  kekurangan ruang rawat inap dan tempat tidur, tapi terancam lemahnya pelayanan kesehatan, karena  berkurangnya tenaga medis akibat  terpapar covid19.

Secara nasional Kasus Covid-19 ini  terus melonjak sejak pertengahan Juni lalu. saat ini ada 218.476 kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Lonjakan kasus tersebut menyebabkan seluruh ruang rawat inap di berbagai rumah sakit penuh, bahkan kehabisan tempat tidur.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Ichsan Hanafi, menyebutkan, pasien sudah penuh hampir di seluruh rumah sakit terutama di Pulau Jawa. “Sudah di atas 90% baik di IGD atau pun di luar IGD, kata Ichsan, dilansir dari Kontan.co.id.

Menurutnya, padahal pihak rumah sakit  sudah meningkatkan kapasitas tempat tidurnya.Selain ruang rawat inap yang sudah terisi penuh sesak,  ternyata juga banyak tenaga kesehatan yang terpapar virus corona. Akibatnya banyak rumah sakit mulai kekurangan tenaga kesehatan.

Di Provinsi Banten pemerintah setempat,  terus memperketat keluar- masuk pendatang dari luar daerah agar dapat memutus mata rantai penyebaran virus mematikan ini.  Bahkan Gubernur Banten Wahidin Halim, setidaknya sudah tiga kali memperpanjang waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)selama wabah covid 19 menjalar ke berbagai daerah di sembilan kabupaten dan kota.

Mantan Walikota Tangerang ini mengingatkan warganya,  agar tetap  patuh menjaga dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. “Warga jangan sampai sakit. Hampir seluruh rumah sakit di Banten penuh sesak oleh pasien covid 19,” katanya.

Dia menyebutkan, Pemprov Banten bersama pemerintah kabupaten kota sudah menyiapkan hampir empat ribu tempat tidur. Namun, ketersediaan tempat tidur tersebut saat ini,  sudah hampir habis terpakai.

Wahidin menuturkan, walaupun pemerintah sanggup menambah jumlah ruang dan tempat tidur di berbagai rumah sakit. Namun  keterbatasan tenaga medis  dalam menangani jumlah pasien yang terus bertambah tetap tidak seimbang

“Untuk itu, peran serta seluruh masyarakat dalam menghadapi covid 19 ini sangat diperlukan. Sekarang klasternya bukan hanya dari perkantoran dan tempat-tempat berkumpul, tapi juga dari rumah tangga,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dr. dr. Hj Ati Pramudji Hastuti, MARS, yang dihubungi Gerbang Banten/leonews.co.id, melalui pesan Whatapp, Selasa 29 Juni 2021 petang, tak memberikan respon atas kasus ini. Hingga berita ini dibuat Rabu 30 Juni 2018 petang, yang bersangkutan enggan menjawab.

Tanda dua contreng hitam, pada telpon genggam pengirim menunjukan, bahwa penerima nggan diketahui apakah pesan tersebut sudah dibaca atau belum.

Berdasarkan data yang diperoleh Gerbang Banten pada Januari lalu, tercatat ada 3.021 tempat tidur  di berbagai rumah sakit di Banten. Namun dengan membeludaknya pasien covid 19, sebanayak  2.636 sudah  terpakai,  atau sekira 87 persen. Sementara untuk rumah singgah tersedia 914 tempat tidur dan sudah terpakai 799 atau sekira 87 persen.

Sebagai gambaran, pada 26 Juni 2021 Indonesia mencatat rekor dengan penambahan 21.095 pasien dalam sehari. Ini merupakan rekor tertinggi selama pandemi.

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, menyebutkan, bahwa wabah ini akan terus memperburuk situasi di berbagai daerah di Indonesia. Skenario terburuk yang mungkin terjadi, yakni 1 juta kasus harian di bulan Agustus dan ancaman kematian bisa lebih dari 5.000 orang per hari.

“Yang jelas saya sudah memberikan masukan ke pemerintah bahwa memang tidak ada opsi lain kita harus bikin pembatasan yang ketat, mau lockdown, mau PSBB, mau PPKM darurat,” katanya.

Senada dengan itu, Iqbal Elyazar, salah seorang peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) mengatakan, cara yang paling tepat untuk menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia adalah menerapkan PSBB secara ketat.

Bahkan anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Netty Prasetiyani pemerintah harus berani mengambil skenario PSBB ketat,  atau memberlakukan lockdown di wilayah berzona merah.

Pihak lain yang mendesak pemerintah memberlakuan PSBB secara ketat ini, diusulkan oleh lima perhimpunan profesi dokter. Mereka adalah, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Selain itu ada juga dari Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (Perki), termasuk dari  ahli epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Windhu Purnomo. (Red 01)


Share this article

Related posts