Oleh: Wisnu Bangun
Mobil Jeep Daihatsu Taft dipacu kencang mengikuti iring-iringan rombongan komandan polisi, melintas di Jalan Raya Sampang Madura menuju Pamekasan tahun 1996.
Saya bersama wartawan Harian Kompas Mohammad Nasir, melakukan liputan dan menyaksikan betapa tegangnya tanah Madura saat itu, ketika masyarakatnya sedang marah.
Sejumlah Kantor Polisi Sektor (Polsek), di antaranya ada yang berdampingan dengan kantor Koramil dibakar massa. Bangku dan berbagai berkas yang ada di dalam kantor polisi dibakar dan sebagian lainnya dibuang ke jalan raya.
Pengamanan siaga dikonsentrasikan oleh polisi saat itu, hanya dilakukan di Polres karena hampir seluruh bangunan Polsek hancur luluh-lantak oleh massa. Pada malam hari seluruh jalan raya di kawasan tanah Madura lengang dari hilir mudik kendaraan bermotor.
Sesekali terdengar denting suara kentungan tiang listrik ditabuh warga yang bertugas ronda.
“Sepi sekali ya,” kata Mas Nasir, sambil mengetik berita yang dicatatnya siang tadi kepada saya.
Waktu itu kami ungkap detil mengapa dan bagaimana warga marah. Namun di sini kami tidak mengungkapkan kenapa apa warga marah terhadap polisi. Biar lah cerita dalam berbagai versi tersimpan dalam kenangan warga dan polisi.
Nasir merupakan wartawan yang sangat serius. Detail peristiwa dicatatnya secara seksama dan teliti, bahkan nyaris tak ada yang lolos- saat melaporkan tulisannya ke kantor Redaksi Kompas, tempatnya bekerja.
Dia mengatakan kepada saya, target laporan yang ditulisnya harus menjadi berita utama (head line). Andaikan laporan yang dibuatnya tak masuk dalam rapat redaksi sebagai head line, namun tak boleh ada suku kata yang salah dalam membuat susunan kalimat berita.
“Redaktur itu capek. Jadi gak boleh kita bebani dengan kiriman berita yang terlalu banyak diedit,” kata Nasir, mengingatkan saya yang berbaring di sampingnya melihat dia menulis berita.
Kebiasaan membaca berulang-ulang seluruh tulisan yang akan dikirim ke redaksi menjadikan laporannya tak ada yang salah ketik, seperti dobel huruf, tanda baca, apalagi nama pangkat, jabatan dan nama orang. “Bisa jadi laporan utama gak yaa,” katanya bergumam dan kembali merombak tulisannya jika dinilai masih belum pas.
Lebih satu bulan saya bersama Mas Nasir (Saat itu Koordinator Koresponden Kompas Wilayah Jawa Timur) di tahun 1996. Banyak ilmu yang saya peroleh darinya, terutama tentang bahasa Indonesia dan ketelitian menulis.
Peristiwa Sampang Madura saat itu, adalah ilmu cara menulis berita detail yang diajar Mas Nasir kepada saya. Saya juga diajarkan olehnya tentang cara menulis feature.
Tulisan feature ringan yang dibuatnya untuk saya, selanjutnya dikirim ke Harian Angkatan Bersenjata dan dimuat yakni tentang pengamen jalanan. Tulisan ini juga yang memicu saya agar bisa membuat feature secara baik.
Satu bulan lebih saya bersama mas Nasir di Surabaya. Kami makan bebek goreng yang sangat enak di pinggir jalan.
Saya juga diajak bermain ke sebuah bukit yang dingin hawanya (namanya lupa). Dia juga tak fanatik terhadap makanan dan minuman. Saat saya memesan bir dingin saat itu, dia hanya bilang “Hayooo….mumpung di sini, makan dan minum semaunya,” kata Mas Nasir.
Dari Surabaya kami pulang ke Tangerang berdua menggunakan mobil Daihatsu Charade, mobil sedan kecil 1000 CC, melalui Jogja terus Tasikmalaya, Bandung dan langsung ke Tangerang.
Setelah berpisah pada hari itu, saya jarang ketemu lagi beliau, kecuali saat pesta perkawianannya dengan Leli Yuliawati, pegawai Pemda Kabupaten Tangerang.
Saya dengar Mas Nasir sudah pensiun dari Harian Kompas tahun 2018. Saya kira dia sudah istirahat. Namun namanya masih beredar lewat pemberitaan kegiatan-kegiatan sosialnya sebagai Direktur Kesejahteraan dan Pengabdian Masyarakat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dan PWI Peduli.
Setahu saya dia suka aktif berorganisasi, terutama di bidang sosial. Belakangan saya tahu ia menjadi Sekretaris Jenderal Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).
Saya janji ingin ketemu lagi, namun sampai tulisan ini saya buat, menjelang Lebaran 2021, belum ada waktu yang pas untuk bisa berjumpa lagi. *

