leonews.co.id
Gaya Hidup

Takut Kehilangan Panggung

Gambar ilustrasi (istimewa)
Share this article

Oleh : Wisnu Bangun

 

leonews.co.id – Panggung pertunjukan biasanya digunakan sebagai tempat untuk menampilkan teater atau karya seni di sejumlah tempat, dengan ukuran tertentu. Biasanya panggung ini, dirancang bentuk dan posisinya agar dapat dengan mudah dilihat oleh penonton.

Berbeda dengan panggung politik. Panggung politik tidak berbentuk bangunan pisik,  seperti yang  dibuat oleh perancang panggung pertunjukan.

Di dunia politik, sering terdengar ada sebutan sedang mencari panggung. Mencari panggung yang dimaksudkan di sini, bukan berarti sedang mencari panggung yang hilang.

Sebutan sedang mencari panggung dimaksud,  biasanya ditujukan kepada mereka yang tidak populer namun ingin maju untuk menjadi presiden atau kepala daerah di suatu tempat. Dalam hal ini biasanya seseorang itu, melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukan sebelumnya.  

Umpamanya melakukan bakti social, mengunjungi sejumlah tokoh di daerah tertentu dengan memberikan sedikit bantuan uang dan lain sebagainya. Pada saat kunjungan biasanya orang yang sedang mencari panggung ini, bersama tim mengajak sejumlah wartawan.

Kemudian dalam dunia politik, ada juga yang disebut takut kehilangan panggung. Sebutan ini biasanya ditujukan kepada mereka yang sedang atau masih menjabat, namun masa-baktinya satu atau dua tahun lagi berakhir.

Dalam Psikologi, orang yang takut kehilangan jabatan atau kehilangan panggung ini, disebut post power syndrome yakni penderita penyakit psikologis yang sulit melepaskan jabatannya.

Lantas apa korelasinya dengan jabatan Gubernur Banten Wahidin Halim, yang akan berakhir pada 22 Mey 2022 mendatang. Apakah juga mantan Walikota Tangerang ini, termasuk diantara mereka yang terkena post power syndrome.

Hal ini berkaitan dengan keterangan pers bapak gubernur ini, dengan sangsi yang akan diberikan kepada 20 pejabat Dinkes saat mengundurkan diri sebagai bentuk solidaritas kepada kawannya–  ditangkap kejaksaan karena kasus dugaan korupsi. Karena sudah membentuk tim pemeriksa yang diketuai oleh sekda, seharusnya maneuver pencitraan yang terkesan arogan tak perlu dilakukan .

Terlebih saat itu, hasil pemeriksaan oleh tim belum selesai. Tidak hanya itu, persoalan pengunduran diri tersebut, berkaitan dengan sumpah jabatan dan disiplin  setiap PNS.

Menurut Muh Kashai Ramdhani Pelupessy, Magister Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta rasa takut seseorang biasa muncul di saat jabatannya akan berakhir. Diantaranya muncul banyak pertanyaan dalam benaknya seperti  “Waduh kalau saya tidak punya jabatan, lantas saya harus bagaimana?”.

Dosen Psikologi di Jurusan BKI IAIN Ambon itu, mengatakan, mereka yang takut kehilangan panggung, juga merasa takut kehilangan keuntungan finansial dari jabatannya. Itulah sebabnya, terkadang membuat seseorang  sulit melepaskan jabatannya, karena pertimbangan biasa selalu di hormati dan perintahnya selalu dikerjakan orang lain.

Gejala takut kehilangan jabatan itu tuturnya, ditandai dengan munculnya perilaku bermasalah seperti, reaksi eksploitatif atau upaya menguasai orang lain. Sering emosi, marah dan gelisah.

Veronica Adesla, psikolog klinis dari Personal Growth, mengatakan post power syndrome memang bukan bentuk gangguan jiwa atau masalah kejiwaan. Pada orang yang pernah memegang jabatan penting, gejala post power syndrome bisa muncul jika ia tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tidak dimintai pendapat.

Orang yang mengalami post power syndrome juga suka ikut campur dan mengatur secara berlebihan hal-hal di sekitarnya yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab ataupun urusannya. Umumnya orang yang mengalami post power syndrome ini,  tidak sadar.

 


Share this article

Related posts