Oleh Wisnu Bangun
Menjelang bulan Agustus, sebuah kisah inspiratif datang dari sosok mualaf dermawan, H. Julianto Limans.Pria yang kini lebih akrab disapa Yuli atau Haji Yuli ini dikenal sebagai oase ketulusan bagi orang-orang di sekitarnya.
Tepat di momen menyambut bulan kelahirannya ini, doa terbaik untuk kesehatan yang paripurna serta kebahagiaan yang tak putus-putus senantiasa kupanjatkan untukmu.
Selamat ulang tahun yang penuh berkah, Abang Yuli!
Tulisan sederhana ini dihadirkan sebagai hadiah kenang-kenangan; sebuah penghormatan kecil untuk mengabadikan kisah kebaikan hati dan kejujuran seorang manusia luar biasa yang beruntung bisa kukenal dalam perjalanan hidup ini.
Hubungan kami bukanlah jalinan pertemanan yang baru seumur jagung.
Kami saling mengenal sejak dekade 1990-an; sebuah masa penuh kenangan ketika wilayah Banten tempat saya tinggal masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat.
Abang Yuli mengenal saya sebagai seorang wartawan yang lurus dan tidak neko-neko.
Dari dasar rasa saling percaya itulah, fondasi persahabatan kami terbangun kokoh melintasi waktu.
Bagi saya yang lahir pada tahun 1953 dan memiliki selisih usia tidak terpaut jauh, pria bernama lengkap H. Julianto Limans ini sudah seperti saudara tua sendiri.
Di mata orang-orang terdekat, pria mualaf yang lahir di Hokian pada 18 Agustus 1948 ini adalah sosok yang selalu mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan moral maupun finansial di saat-saat paling krusial, dengan satu karakter utama yang tak pernah luntur: kejujuran tanpa kompromi.
Jauh sebelum sukses di masa tua, masa kecil Yuli dihabiskan di China bersama sang nenek.
Barulah saat menginjak usia remaja, ia dijemput oleh kedua orang tuanya untuk menetap dan bersekolah di Indonesia.
Ia didaftarkan di SMP Candra Naya; sebuah sekolah swasta terkenal di Jl. Jembatan Besi II No. 26, Tambora, Jakarta Barat.
Di sekolah tersebut, mayoritas muridnya adalah anak-anak keturunan Tionghoa yang dalam pergaulan lokal Jakarta saat itu populer dengan istilah “Cinko” atau Cina Kota.
Di masa-masa remaja di ibu kota itulah, ia tumbuh layaknya anak-anak lain; aktif bermain sepak bola, pergi-pulang sekolah, dan sesekali terlibat perkelahian khas remaja.
Dari cerita masa muda itu pula lahir julukan “Sipitak”; sebuah nama panggilan ikonik yang melekat karena bekas luka di kepalanya.
Di usianya yang telah matang saat ini, nama “Sipitak” memang sudah tidak populer lagi dan hanya sesekali beliau sebut saat mengobrol ringan mengenang masa lalu.
Namun, nama itu tetap menjadi saksi sejarah perjalanan hidupnya.
Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses era GANEFO 1963, Yuli dididik dengan sangat disiplin oleh sang ayah di rumah.
Harapan besar agar putra sulungnya tumbuh menjadi pria yang pintar dan tangguh membuat sabetan rotan di telapak tangan menjadi hal biasa setiap kali ia kesulitan memahami pelajaran sekolah.
Namun, di balik ketegasan yang luar biasa itu, tersimpan kasih sayang seorang ayah yang sangat dalam.
Yuli mengenang suatu hari ketika ia dikurung di dalam kamar sebagai hukuman hingga tertidur pulas.
Begitu membuka mata, rasa takutnya seketika mencair saat melihat seekor anak anjing kecil yang bergerak-gerak di kolong ranjangnya.
Hewan tersebut adalah impian yang sudah sangat lama ia idam-idamkan; hadiah kejutan dari sang ayah yang ternyata diam-diam mendengar cerita Yuli kepada ibunya.
Sayangnya, kebersamaan dengan sang ayah harus usai terlalu cepat.
Sebelum Yuli sempat menyelesaikan sekolah SMP-nya, sebuah tragedi memilukan menimpa sang ayah.
Bagi seorang pengusaha kaya di era itu, naik becak adalah hal yang sangat lumrah karena armada taksi modern berargometer memang belum lahir di ibu kota.
Terlebih lagi, jarak antara tempat kerja sang ayah di kawasan Pinangsia menuju Petak Sembilan terhitung sangat dekat, menjadikan becak sebagai transportasi paling favorit dan praktis bagi siapa saja.
Namun siang itu, takdir berkata lain ketika becak yang ditumpangi sang ayah terbalik akibat insiden kecelakaan di sekitar Petak Sembilan, Kota.
Ayah Yuli yang terluka parah segera dilarikan ke Rumah Sakit Husada Jakarta untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah sempat mendapatkan perawatan intensif, sang ayah tidak dapat tertolong dan menghembuskan napas terakhirnya di usia yang masih tergolong muda.
Tragedi kehilangan yang mendadak ini seketika mengubah segalanya.
Yuli tumbuh besar bersama adik satu-satunya, Carin, di bawah asuhan sang ibu kandung yang terpaksa berjuang sendirian menjadi orang tua tunggal (single parent).
Ketangguhan sang ibu dalam membesarkan mereka di tengah badai ujian kehidupan berhasil membentuk Yuli dan adiknya menjadi pribadi yang mandiri dan sukses.
Di kemudian hari, Carin menikah dengan Kuncung; seorang pengusaha pabrik kabel listrik ternama yang saat ini telah almarhum.
Darah pengusaha yang mengalir dari sang ayah rupanya berhasil menempa Yuli menjadi seorang pengusaha yang tangguh di bidangnya.
Ia sukses membangun bisnis sebagai pengusaha tambang, mengelola komoditas pasir dan batu di sejumlah tempat strategis seperti wilayah Cileungsi, Bogor, dan Tangerang.
Setelah bertahun-tahun menaklukkan kerasnya dunia bisnis, ia akhirnya memutuskan untuk berhenti beroperasi saat merasa fisiknya telah mulai lelah dimakan usia.
Ketangguhan hidup yang terbentuk sejak muda tersebut menemukan pelabuhan indahnya saat Yuli memilih untuk memeluk agama Islam.
Statusnya sebagai seorang mualaf ia hidupi dengan penuh ketulusan.
Puncaknya terjadi pada tahun 1995, ketika ia berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.
Bagi seorang Julianto Limans, berkah tidak pernah dinikmati seorang diri.
Sebagai wujud kasih sayang yang mendalam, ia memboyong adiknya, Bu Carin, serta beberapa teman dekatnya untuk bersama-sama menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
Seluruh biaya keberangkatan mereka ditanggung sepenuhnya dari kantong pribadi Abang Yuli.
Sifat mulia dan kecintaan pada agama ini kini diwarisi oleh putra sulungnya, Budi, yang juga seorang mualaf.
Budi memilih jalan hidup sebagai musafir dakwah yang berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk mendampingi para ustaz, termasuk hingga ke wilayah Mataram.
Kini, takdir membawa kami kembali dekat secara geografis; kami tinggal di satu daerah yang sama, hanya berbeda kecamatan di wilayah Kota Tangerang Selatan.
Di usianya saat ini, Haji Yulianto Limans telah berhasil melukis sebuah potret kehidupan yang sangat indah.
Dari seorang anak “Cinko” yang ditempa kedisiplinan keras, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang hebat, hingga menjelma menjadi mualaf yang dermawan dan sahabat sejati yang kebaikannya terukir abadi.
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Abang Yuli.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan, panjang umur, dan berkah yang melimpah untukmu.
Persahabatan kita akan selalu abadi.

