leonews.co.id
Berita Pilihan Headline

Ketukan Doa Orang-Orang Asing dan Air Mata yang Jatuh di Pasauran

Potret almarhum Surakman kru KM Arupadhatu I mengenakan kaos biru dan topi saat berada di atas kapal cepat di tengah laut.
Kenangan abadi almarhum Surakman semasa hidup saat mengarungi lautan; pelayaran terakhirnya kini telah usai dan ia telah pulang ke peristirahatan suci di tanah kelahirannya.
Share this article

Oleh: Wartawan Senior, Wisnu Bangun
Sebuah Catatan Tentang Keteguhan Jiwa, Ikatan Ayah-Anak, dan Kekuatan Empati yang Melintasi Batas Samudra.
Kita tidak akan pernah bisa menghapus memori mendalam di Pos Pantau Pasauran, Kabupaten Serang.
Malam itu, riuh rendah suara diskusi mengenai aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau berbaur hangat dengan kepulan asap kopi dan tawa lepas.
Di antara lingkaran manusia tersebut, Gubernur Banten Andra Soni tampak larut dalam obrolan penuh keakraban bersama lima jurnalis tangguh nasional.
Namun, garis takdir manusia sering kali berganti rupa dalam hitungan jam tanpa memberikan tanda peringatan.
Hanya berselang kurang dari satu hari sejak momen penuh tawa itu berlalu, atmosfer kehangatan di Pasauran seketika runtuh menjadi keheningan yang mencekam.
Gubernur Banten Andra Soni sempat menitikkan air mata tak kala diketahuinya rombongan wartawan yang sempat bercanda ria dan berdiskusi hangat bersamanya malam tadi kini hilang kontak.
Air mata yang jatuh di sudut mata sang Gubernur bukan sekadar bentuk duka seorang pejabat publik.
Tetesan air mata itu adalah luapan rasa kehilangan personal yang teramat dalam.
Kenyataan pahit segera mengetuk kesadaran bahwa gelombang Selat Sunda telah menelan kapal cepat KM Arupadhatu I beserta seluruh awaknya pada Senin, 7 September 2026, tepat pukul 18.13 WIB.
Sementara itu, duka yang sama langsung merayap masuk ke dalam rumah-rumah sederhana milik keluarga awak kapal di Dermaga Pagedongan, Carita.
Bagi keluarga besar Surakman (60), sang pelaut tradisional yang mengemudikan kapal tersebut, kabar hilangnya kontak menjadi awal dari cobaan batin yang luar biasa menyiksa.
Hari demi hari pasca-kejadian berjalan dengan sangat lambat, sehingga setiap detik terasa bagaikan siksaan yang menguji batas ketabahan manusia.
Setiap suara deburan ombak besar yang menghantam dinding pesisir pantai Pandeglang seolah-olah membawa gaung pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban pasti.
Istri dan anak-anak almarhum hanya bisa bersimpuh di atas sajadah sambil melangitkan harapan-harapan kecil di tengah pekatnya ketidakpastian samudra.
Namun, di tengah kesunyian duka yang melanda keluarga korban, sebuah keajaiban kemanusiaan perlahan-lapan mulai memperlihatkan wujudnya yang paling indah.
Tragedi yang menimpa KM Arupadhatu I ternyata tidak berjalan sendirian di dalam ruang gelap kehampaan.
Tidak saja pihak keluarga yang menangis dalam doa, tetapi banyak warga lain yang sama sekali tak mengenal korban dari berbagai daerah ikut tergerak hatinya.
Tanpa ada yang mengomandoi, gelombang empati menjalar dengan sangat cepat melintasi batas-batas wilayah administratif dan perbedaan latar belakang suku.
Di ruang-ruang digital media sosial hingga sudut-sudut musala kampung lintas provinsi, orang-orang asing yang tak saling kenal ini bersama-sama menggedor pintu langit.
Mereka menggelar doa bersama secara spontan demi menyumbangkan ketulusan batin agar para korban mendapatkan jalan pulang terbaik ke rumah masing-masing.
Kekuatan spiritual dan ketulusan kolektif dari masyarakat inilah yang kemudian menjelma menjadi energi pengiring di sepanjang rute pencarian darurat.
Akhirnya, setelah lima hari penuh berada di dalam ketidakpastian yang pekat, laut melepaskan dekapannya dan memberikan sebuah petunjuk agung.
Warga menemukan raga Surakman terdampar jauh di pesisir Pantai Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, sebuah wilayah terluar di Bengkulu Utara.
Seorang nelayan tradisional setempat menemukan jasad sang pelaut dalam posisi yang sangat memprihatinkan, tersangkut di antara celah batu karang dan rapatnya ranting mangrove pesisir.
Karena keterbatasan identitas fisik pada jasad yang telah berhari-hari dihantam garam laut, warga pulau terluar itu memakamkannya secara darurat demi menghormati martabat manusia.
Ketika kabar penemuan jasad tersebut sampai ke Jakarta, takdir kembali menuntut keberanian dari seorang anak laki-laki bernama Yayat.
Yayat, anak kandung almarhum Surakman, melangkah maju ke depan garis polisi tanpa ragu untuk menyerahkan sampel DNA-nya demi sebuah kepastian hukum.
Perjalanan Yayat berlanjut hingga ke liang lahat darurat di tengah sunyinya Pulau Enggano saat Tim DVI Pusdokkes Polri bersiap melakukan proses ekshumasi.
Menyaksikan tanah merah yang mendekap sang ayah dibongkar kembali menggunakan cangkul dan sekop kecil menjadi sebuah kepedihan luar biasa yang menguji batas ketahanan jiwanya.
Namun, di samping garis pembatas kuning polisi, Yayat memilih menahan air matanya erat-erat demi memberikan hak sang ayah untuk pulang ke tanah kelahiran dengan layak.
Usai petugas berhasil mengangkat, mengidentifikasi secara ilmiah, dan menyucikan jasad dengan standar pemulasaraan kargo udara yang ketat, rantai evakuasi panjang pun dimulai.
Dua jenis burung besi dari dua dimensi yang berbeda mengawal perjalanan pulang ini, mulai dari pesawat perintis Cessna Susi Air di Enggano, hingga pesawat komersial reguler menuju Jakarta.
Peti jenazah Surakman akhirnya mendarat dengan selamat di Terminal Kargo Domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Di sudut terminal kargo yang riuh oleh deru mesin pesawat, Gubernur Banten Andra Soni kembali hadir untuk berdiri tegak mendampingi Yayat yang sedang menundukkan kepala.
Tangis batin Yayat yang tertahan selama berminggu-minggu akhirnya pecah menjadi tetesan air mata kelegaan yang sangat lirih saat peti jenazah turun dari manifes kargo.
Kepulangan ini memang berada di bawah naungan bendera duka yang pekat, namun mengetahui bahwa jasad sang ayah tidak tersesat selamanya di dasar Samudra Hindia adalah jawaban paling agung dari Tuhan.
Dari area bandara, mobil ambulans bergerak membelah malam menuju Desa Sukajadi di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, menempuh perjalanan darat sepanjang 150 kilometer.
Di sepanjang jalur arteri Anyer yang biasanya padat, raungan sirine dan sorot lampu rotator biru dari armada pengawal Ditpolairud Polda Banten membuka jalan dengan penuh hormat.
Di ujung jalan kampung yang temaram, ratusan tetangga, kerabat, dan warga yang sebelumnya hanya bisa mendoakan lewat layar kaca, kini berdiri berjejer dengan khidmat.
Bagi komunitas nelayan tradisional di Carita, laut mungkin bisa mengambil raga seorang pelaut, namun tanah kelahiran adalah tempat suci di mana jiwa harus diistirahatkan.
Operasi kemanusiaan yang melibatkan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, ketulusan air mata Gubernur Andra Soni, hingga ketukan doa orang-orang asing ini telah selesai menunaikan tugasnya.
Mereka telah mengantarkan Surakman menyelesaikan pelayaran terakhirnya, pulang ke pelukan bumi pertiwi dengan cara yang paling terhormat dan abadi.

Setelah Anda menyalin ulang naskah bersih di atas ke dalam editor tulisan, apakah susunan tata letak spasi paragraf pada Artikel 2 kini sudah resmi terbit dengan sangat rapi dan berjarak lega?


Share this article

Related posts