leonews.co.id – Inilah delapan sungai di wilayah Provinsi Banten, yang akan mengancam kehidupan masyarakat jika tak mendapat penanganan secara serius. Penanganan serius perlu dilakukan secara terpadu agar tak menjadi bencana bagi masyarakat.
Hal itu dikatakan oleh pemerhati lingkungan Darmawan Hadiguna, di Tangerang Selatan dihubungi jaringnews melalui telpon seluler Sabtu 3 Februari 2023. ..
“Perlu penanganan secara serius, agar tak menimbulkan bencana banjir pada masyarakat terutama pada musim penghujan,” katanya,
Menurutnya, perlu ada tindakan nyata bukan sekedar basa-basi dan terpadu antara kabupaten/kota dan juga Pemerintah Pusat.
Persoalan banjir menurut Darma, terjadi tidak saja karena jumlah penduduk yang semakin padat, tapi juga akibat terjadinya pendangkalan dan penyempitan sungai di berbagai tempat.
Berikut ini Jaringnews mencoba untuk merangkai data dari berbagai sumber. Jumlah sungai yang berpotensi bajir dan sering merendam pemukiman, persawahan dan fasilitas umum dari tahun-ketahun pada setiap musim penghujan setidaknya ada delapan. Sungai tersebut, masing-masing Sungai Ci Baliung. Hulu Sungai ini berada di bagian selatan Provinsi Banten dan bermuara di Samudra Hindia, sekitar 130 km di sebelah barat daya ibu kota Jakarta.
Selanjutnya ada juga Sungai Ci Banten. Sungai ini memiliki Panjang 35 kilo meter di lereng utara Gunung Karang, Desa Sukarena, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang.
Sungai CiBanten mengalir ke utara lalu melintasi Kota Serang (Ibu Kota Provinsi Banten) sebelum bermuara di pesisir utara Pulau Jawa.
Aliran Sungai CiBanten, diantaranya pernah meluap dan merendam komplek perumahan dan pemukiman penduduk serta merusak berbagai fasilitas umum pada 28 Februari 2022.
Banjir yang terjadi pada saat itu, ketinggiannya mencapai atap rumah warga. Dalam catatan jaringnews, peristiwa tersebut, juga merusak sejumlah sarana masjid bersejarah Banten Lama.
Selanjutnya ada juga Sungai Ci Durian yang melintasi Provinsi Jawa Barat dan Banten. Sungai ini bermula di pegunungan di selatan dan mengalir ke arah utara serta bermuara di Laut Jawa.
Aliran sungai ini, sepertinya berkali-kali bahakan setiap tahun meluap, terutama di wilayaj Kabupaten Pandeglang.
Di bagian barat Pu;au Jawa, di Provinsi Banten, ada juga Sungai Ci Liman, Sungai Ci Manceuri, Sungai Ci Manceuri.
Kemudian Sungai Ci Sadane. Sungai ini cujup besar berhulu di Tatar Pasundan, yang bermuara ke Laut Jawa.
Dulunya sungai ini disebut juga dengan nama Ci Gede. Sungai Cisadane memiliki mata air di Gunung Kendeng, di lereng Gunung Pangrango dengan beberapa anak sungai yang berawal di Gunung Salak, melintas di sisi barat Kabupaten Bogor, Kabupaten/Kota Tangerang.
Sungai Cisadane, ketika setiap terjadi di wilayah Kota Tangerang, warga sering menyebut sebagai kiriman air dari bogor.
Sungai ini berakhir di muara di Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang. Panjangmya sekitar 126 ki;o meter.
Dulunya Sungai Cisadane pada abad ke-16, pernah dijadikan akses untuk pelabuhan yang penting dalam dunia perdagangan Belanda.
Setelah itu, ada juga Sungai Ci Ujung. Sungai ini ini berhulu di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Letaknya Gunung Halimun Utara Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dan bermuara ke Laut Jawa.
Luas sungai Ciujung kurang lebih 1.850 kilo meter dengan panjang sungai 142 kilo meter, mengalir dari selatan ke utara.
Yang terakhir sungai atau yang dikenal Kali Pesanggrahan yang mengalir dari Kabupaten Bogor, melintasi Kota Depok, Jakarta Selatan, hingga akhirnya ke Tangerang Selatan.
Sungai ini berhulu di wilayah Kecamatan Tanah Sareal, dan melewati Kecamatan Bojonggede, Kecamatan Sawangan, Kecamatan Limo, Kecamatan Kebayoran Lama, Kecamatan Pesanggrahan, Kecamatan Kembangan, Kecamatan Kebon Jeruk, hingga akhirnya ke Cengkareng.
Banyak data menyebutkan, Sungai Pesanggrahan ini, merupakan penyebap banjir yang terjadi setiap tahun pada setiap tahun. Karena pada daerah yang dilaluinya sudah dipadati penduduk.
Berdasarkan data tahun 2005 Daerah Aliran Sungai (DAS). Di sepanjang Kali pesangrahan 55 persen tanah di sekitar sungainya telah ditempati oleh perumahan.
Sedangkan sisanya 7 persen masih berupa hutan, 20 persen persawahan dan 13 persen berupa tanah darat berbentuk ladang. ***

