SERANG (leonews.co.id) — Kawasan Pantai Anyer tidak hanya menyajikan pesona pesisir yang memukau, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah kolonial yang bernilai tinggi.
Salah satu ikon paling menarik yang harus Anda kunjungi adalah Menara Mercusuar Cikoneng.
Menara bersejarah ini tepatnya berada di Kampung Bojong, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Banten.
Bagi pelancong yang ingin berkunjung, akses menuju lokasi ini terbilang sangat mudah karena hanya berjarak sekitar 40 kilometer dari Gerbang Tol Merak, dengan waktu tempuh berkendara kurang lebih 1 jam perjalanan.
Bangunan yang berdiri saat ini merupakan hasil konstruksi ulang pada tahun 1885, di bawah masa pemerintahan Raja Belanda Willem III yang berkuasa sejak 1849 hingga kematiannya pada tahun 1890.
Jauh sebelum menara baja ini berdiri, struktur pertamanya sebenarnya sudah dibangun pada tahun 1883.
Namun, bencana mahadahsyat letusan Gunung Krakatau pada tahun yang sama meluluhlantakkan bangunan awal tersebut.
Pemerintah kolonial kemudian mendirikan ulang menara setinggi 75,5 meter ini menggunakan material lempengan baja tebal.
Menariknya, sisa-sisa pondasi menara lama yang hancur kini dialihfungsikan menjadi monumen bersejarah yang menandai Titik Nol Kilometer, hulu dari pembangunan megah Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur.
Hingga saat ini, Mercusuar Anyer masih menjalankan fungsi utamanya secara aktif sebagai pemandu navigasi kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda.
Struktur dalam menara ini dilengkapi dengan 286 anak tangga untuk bisa mencapai bagian puncaknya.
Karena nilai strategisnya, otoritas terkait juga kerap memanfaatkan puncak menara ini sebagai titik pemantauan hilal resmi untuk menentukan awal bulan penanggalan Hijriah.
Namun, mengingat statusnya yang masih aktif sebagai fasilitas navigasi vital di bawah wewenang Kementerian Perhubungan, masyarakat umum saat ini tidak diperkenankan untuk naik ke dalam bangunan utama atau area puncak menara demi menjaga keamanan operasional serta keselamatan navigasi laut.
Meski akses ke atas menara ditutup, wisatawan tidak perlu berkecil hati karena pengunjung tetap diperbolehkan mengeksplorasi kawasan luar sekitar menara.
Area pekarangan mercusuar menawarkan sudut pandang estetis yang sangat cocok bagi pencinta fotografi untuk berswafoto dengan latar belakang bangunan megah bergaya kolonial ini.
Bagi Anda yang tertarik berwisata sejarah sekaligus menikmati panorama pantai di sekitar lokasi, tiket masuk ke Kawasan Pantai Mercusuar Anyer dibanderol dengan tarif yang cukup terjangkau, yakni berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per orang.
Bila Anda berniat menghabiskan malam di sekitar areal mercusuar, terdapat berbagai pilihan akomodasi yang tarifnya dikelompokkan berdasarkan tipe penginapan, mulai dari hotel melati, homestay, hingga hotel berbintang.
Untuk tipe hotel melati atau penginapan sederhana, jenis ini sangat menjamur di sepanjang jalur Anyer-Sirih dengan fasilitas standar seperti kamar tidur AC atau kipas angin, TV, dan kamar mandi dalam, yang ditawarkan dengan kisaran tarif Rp 150.000 hingga Rp 350.000 per malam pada hari kerja.
Motel seharga Rp 350.000 atau Penginapan Dilah H.O sekitar Rp 300.000 per malam.
Pilihan lain yang sangat cocok untuk wisatawan keluarga atau rombongan adalah homestay dan villa.
Karena beberapa di antaranya menawarkan fasilitas dapur, ruang tengah, hingga akses jalan kaki yang sangat dekat ke bibir pantai.
Tarif untuk sewa kamar homestay berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 450.000 per malam, sedangkan untuk sewa villa komplet berisi dua hingga tiga kamar dibanderol mulai Rp 800.000 hingga Rp 2.500.000 lebih per malam, tergantung pada fasilitas kolam renang dan kapasitas yang disediakan.
Sementara itu, bagi wisatawan yang mencari kenyamanan ekstra dengan fasilitas mewah seperti kolam renang infinity pool, restoran tepi laut, sarapan gratis, hingga area pantai privat, hotel berbintang di kawasan ini menawarkan tarif berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 1.500.000 lebih per malam.
Para pelancong perlu mengantisipasi bahwa tarif tersebut dapat melonjak hingga dua kali lipat saat libur nasional atau musim liburan tinggi (high season).
(Penulis: Wisnu Bangun)

