BAYAH (leonews.co.id) – Perusahaan industry semen “Merah Putih” di bawah kendali PT Cemindo Gemilang, di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, didemo ratusan warga, Kamis (17/2/2022). Warga menuding perusahaan pengolahan bahan baku bangunan itu, abai untuk menjaga lingkungan di sekitar perusahaan.
Selain itu, perusahaan ini juga dituding telah mengabaikan kepentingan warga dalam mencari lapangan kerja. Perusahaan lebih banyak menggunakan tenaga kerja dari luar daerah ketimbang menggunakan tenaga local yang berdomisili di sekitar pabrik semen tersebut.
Koordiantor aksi, Aliansi Bayah Menggugat (ABM) Budi Supriadi, mengatakan, aksi warga dilakukan sebagai bentuk kekecewaan kepada perusahaan pemegang merk semen Merah Putih, yang dianggap mengabaikan tuntutan warga.
“Karena tindakan pihak perusahaan yang tak mengakomodir kepentingan warga tersebut, makanya kami turun langsung menggelar demo. Diharapkan setelah ini akan ada perbaikan system perekrutan tenaga kerja yang mengutamakan tenaga local,” katanya.
Selain mendesak agar perusahaan Semen Merah Putih melakukan perubahan dalam melakukan rekrutmen tenaga kerja, Budi juga meminta pihak perusahaan melakukan perbaikan system pembuangan limbah agar tak mengganggu pertanian warga.
Berkaitan dengan, lingkungan tutur Budi, ada pemilik sawah di Cinangga Lebak, Desa Bayah Timur, mengaku merasa dirugikan karena sawahnya kering akibat ulah perusahaan. Tidak hanya itu, warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi tambang bahan baku semen terancam longsor.
Sementara warga, yang rumahnya berdekatan dengan dengan area bongkar muat di dermaga milik PT Cemindo Gemilang, juga terimbas debu batubara dan debu industry pabrik semen. “Yang penting harus ada kesepakatan antara warga dengan perusahaan,” tegas Budi.
Demo yang berlangsung di gerbang PT Cemintdo Gemilang itu berlangsung panas. Polisi dan pendemo saling dorong. Bahkan sempat terjadi kerusuhan antara pendemo dengan petugas kepolisian.
Upaya warga yang berusaha masuk ke lokasi pabrik tak berhasil karena dihalangi oleh pihak kepolisian. Ratusan warga hanya dapat melakukan orasi di luar pekarangan pabrik. (***)
Editor : Wisnu Bangun

