leonews.co.id
Berita Pilihan Headline

Menembus Keheningan Selat Sunda: Ketika Gelombang Menelan Para Pejuang Informasi

Kerumunan jurnalis dan kamera media massa sedang mewawancarai pejabat di posko pencarian darurat pada malam hari terkait kecelakaan laut wartawan hilang di Selat Sunda.
Suasana konferensi pers darurat di malam hari di mana Gubernur Banten Andra Soni bersama otoritas terkait dikerumuni puluhan jurnalis di posko Marina Carita guna mengonfirmasi perkembangan operasi pencarian korban KM Arupadhatu I. (Foto Dokumen Redaksi)
Share this article

Oleh: Wartawan Senior, Wisnu Bangun

 

Dunia pers Indonesia dirundung awan kelam menyusul hilangnya KM Arupadhatu I secara misterius di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK).

Insiden ini tercatat sangat ekstrem karena tidak menyisakan tanda-tanda fisik sedikit pun di permukaan air.

Keseriusan kasus ini bahkan membuat Presiden RI Prabowo Subianto, mengeluarkan perintah langsung agar operasi SAR skala besar segera diaktifkan.

Ini menjadi momentum pertama kalinya sebuah kecelakaan laut sipil digerakkan di bawah komando dan atensi khusus dari kepala negara.

Misi Terakhir di Kaki Krakatau

Langkah awal petaka ini bermula ketika lima jurnalis dari berbagai media besar bersiap mendokumentasikan fenomena alam di Selat Sunda pada Senin, 7 September 2026.

Tepat pukul 14.00 WIB, mereka membawa misi mulia untuk menyajikan informasi visual mengenai aktivitas vulkanik terkini dari Dermaga Pagedongan, Carita di Kabupaten Pandeglang.

Perjalanan yang semula dipenuhi semangat mendadak terputus, setelah komunikasi terakhir terdeteksi pukul 14.42 WIB.

Sistem navigasi kapal kehilangan kontak total secara instan tepat pada pukul 15.04 WIB.

Para ahli menduga hantaman gelombang atau anomali palung laut telah menenggelamkan mereka dalam hitungan detik sebelum awak kapal sempat menekan tombol darurat.

Perjuangan Tanpa Batas 523 Personel

Perintah langsung presiden segera dijawab dengan pengerahan 523 personel gabungan terdidik yang terdiri dari unsur TNI, Kepolisian, dan Basarnas.

Selama 10 hari tanpa jeda, wilayah perairan Anyer hingga Carita dikepung oleh armada penyelamat.

Penyisiran tidak hanya mengandalkan radar permukaan, melainkan telah menembus dan mendeteksi dasar laut menggunakan robot penyelam khusus.

Sangat disayangkan, kombinasi arus bawah laut yang pekat dan sapuan abu vulkanik membuat segala upaya tersebut berakhir dengan hasil yang nihil.

Ketulusan Warga dan Dapur Umum Pemprov Banten

Di luar pergerakan taktis militer, solidaritas masyarakat lokal Banten ikut pecah di sepanjang garis pantai.

Ratusan nelayan tradisional secara sukarela turun ke laut menggunakan perahu kayu untuk mencari para korban berdasarkan insting kebatinan mereka.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Banten bergerak cepat memfasilitasi kebutuhan logistik di darat.

Dapur umum didirikan, ambulans disiagakan, dan sejumlah OPD seperti Dinas Kesehatan serta Dinas Sosial dan BPBD dikerahkan penuh oleh Gubernur.

Sebagai bentuk empati yang mendalam, Pemprov Banten juga membiayai fasilitas hotel yang nyaman bagi seluruh keluarga korban agar mereka dapat beristirahat dengan layak selama masa krusial tersebut.

Keteguhan Hati Keluarga dan Tangis Andra Soni

Kamar-kamar hotel tersebut saksi bisu lahirnya ikatan kekeluargaan baru di antara para istri dan ibu korban yang saling menguatkan dalam doa.

Duka mendalam ini juga dirasakan secara langsung oleh Gubernur Banten, Andra Soni, yang tidak mampu menahan air matanya di posko penyerahan berkas.

Andra Soni memiliki hubungan emosional yang sangat kuat karena pada Minggu malam, 6 September 2026, kelima wartawan tersebut masih berkumpul dan bercanda ria bersamanya hingga larut malam.

Komitmennya dibuktikan dengan selalu hadir di posko setiap malam, bahkan sang gubernur ikut turun mengarungi samudera bersama Tim SAR demi mencari keberadaan sahabat-sahabatnya.

Gema Doa Pintu Langit Lintas Nusantara

Ketika jalur duniawi menemui jalan buntu, kekuatan spiritual mengambil alih perjuangan ini.

Sebuah gerakan solidaritas spiritual bertajuk “Doa Pintu Langit” bergaung serentak dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia.

Ribuan pondok pesantren, ruang redaksi media, hingga komunitas warga menggelar doa bersama demi keselamatan para kru dan jurnalis.

Ketukan doa lintas wilayah ini menjadi bukti nyata bahwa kepahlawanan para korban telah menyentuh hati seluruh masyarakat.

Penutupan Operasi dan Keabadian di Dasar Laut

Pada 17 September 2026, operasi SAR gabungan resmi dihentikan demi hukum dengan menyisakan duka bagi delapan nama yang berada di dalam kapal:

Manifes Jurnalis:

  • Bagus Khoirunas (LKBN ANTARA)
  • Ari Basuki (Merdeka.com)
  • Yudistiro Pranoto (iNews)
  • Firdaus Wajidi / Firman Daus (Anadolu Agency)
  • Donal Husni (Jurnalis Foto Freelance)

Manifes Awak Kapal:

  • Warta (Nakhoda)
  • Heriyanto (Pemandu)
  • Sukarman (Kru)

 

Tim SAR menyimpulkan bahwa posisi kapal dan seluruh korban telah terseret oleh arus bawah laut yang sangat kuat ke dalam palung terdalam.

Sebagai penghormatan terakhir, ratusan nelayan menggelar ritual larung bunga dengan membentuk formasi melingkar di tengah samudera.

Meski fisik mereka tidak ditemukan, nama para pejuang informasi ini akan tetap abadi di dasar Selat Sunda dan di hati masyarakat Indonesia.

 


Share this article

Related posts