KOTA SERANG (leonews.co.id) – Kolaborasi taktis antara Pemerintah Kota Serang, Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Serang, dan BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3) sukses mengeksekusi normalisasi skala besar sejak Mei hingga Juni 2026.
Langkah masif yang dipimpin oleh Wali Kota Serang Budi Rustandi ini menyasar aliran Sungai Cibanten hingga alur Muara Karangantu yang telah dibiarkan terlantar tanpa pengerukan selama lebih dari 30 tahun.
Wali Kota Serang, Budi Rustandi, menyatakan kebanggaannya atas realisasi proyek yang menjadi bukti nyata komitmen lintas sektoral dalam mengurai keluhan masyarakat pesisir.
“Alhamdulillah, ini adalah penantian panjang warga selama tiga dekade, dan pengerukan ini merupakan tindak lanjut langsung dari keluhan masyarakat yang keterbatasan anggaran daerahnya kini dibantu sinergi APBD Provinsi serta pusat agar penanganan banjir krusial ini tuntas,” ujar Budi Rustandi saat meninjau langsung lokasi.
Eksekusi penanganan sedimentasi akut ini menjadi tonggak baru komitmen pemda dalam mengatasi akar masalah banjir tahunan yang kerap merendam wilayah Kota Serang.
Proyek ini sekaligus menjadi angin segar bagi pemulihan urat nadi perekonomian ratusan nelayan lokal yang selama ini lumpuh akibat perahu kandas saat melintasi muara.
Data teknis lapangan menunjukkan pengerukan ini ditargetkan menyasar total enam anak sungai Cibanten yang menyumbang risiko banjir rob terbesar di wilayah Kecamatan Kasemen.
Proyek normalisasi terpadu pada tahap pertama difokuskan penuh menyasar dua titik utama sepanjang 1,5 kilometer guna memastikan kelancaran arus air menuju laut lepas.
Pembersihan aliran sungai krusial difokuskan pada kawasan padat dan rawan seperti kawasan Sukadana hingga ke area Bendungan Karet di Sungai Cibanten.
Sementara di Muara Karangantu, dilakukan pengerukan intensif pada jalur laut pelayaran utama untuk membuka akses transportasi kapal-kapal nelayan setempat.
Dari operasi pengerukan gabungan pada kedua titik tersebut, volume material sedimen berupa pasir, lumpur pekat, dan limbah sampah yang berhasil diangkat dari dasar air diperkirakan mencapai total 190.000 meter kubik.
Selain memindahkan ratusan ribu kubik lumpur, petugas di lapangan juga harus mengevakuasi sedikitnya 80 bangkai kapal nelayan yang sudah puluhan tahun karam dan tertimbun sedimentasi di dasar sungai hingga menyumbat total aliran air.
Sistem zonasi logistik pembuangan material diatur ketat berdasarkan jenisnya untuk mencegah pencemaran ulang perairan pesisir.
Material sampah padat diangkut melalui jalur darat sejauh sekitar 14 hingga 16 kilometer menggunakan armada truk dari pesisir Karangantu menuju TPA Cilowong di Kecamatan Taktakan.
Sedangkan material lumpur dan sedimen dihisap lalu dibawa menggunakan kapal tongkang menuju dumping area lepas pantai serta kawasan reklamasi industri pesisir terdekat, menempuh jarak pelayaran berkisar 5 hingga 10 mil laut atau sekitar 9-18 kilometer dari bibir muara.
Sebelum proyek di bawah kepemimpinan Budi Rustandi ini dimulai, kedalaman air di muara Karangantu saat surut berada pada kondisi kritis yang hanya menyisakan ruang sedalam 1 meter.
Melalui intervensi pengerukan intensif ini, kedalaman alur muara sungai berhasil dikembalikan hingga mencapai kedalaman ideal sekitar 2 meter.
Dengan pulihnya daya tampung sungai dan kedalaman alur muara, deviasi debit air hujan kini dapat mengalir langsung ke laut secara cepat saat cuaca ekstrem.
Di sisi lain, normalisasi ini menjadi jaminan keselamatan bagi nelayan Karangantu yang kini dapat kembali melaut dengan aman tanpa khawatir kapal mereka menabrak endapan lumpur. (Wisnu Bangun)

