leonews.co.id
Berita Pilihan

Hotel dan Restoran, Paling Terdampak Ganasnya Covid 19

Share this article

 

SERANG (leonews.co.id) – Dampak negatif  COVID-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun terakhir, sangat dirasakan oleh perusahaan industry pariwisata selain industry lain. Hunian hotel dan rumah makan  yang tergabung, dalam Persatuan Hotel dan Renstoran Indonesia (PHRI) di semua daerah sangat merasakan dampak ganasnya Covedi 19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Kendati demikian, rasa oftimis seluruh pengusaha hotel masih sangat tinggi. “Kan hidup ini tak selalu kelam. Ada saatnya situasi terang yang akan membuat setiap usaha itu, membaik,” kata Ketua PHRI Serang, Banten, Ashok Kumar dihubungi,  Selasa 5 Oktober 2021 petang.

Menurut Ashok, kendati dalam situasi yang kurang beruntung akibat covid 19 saat ini, penambahan jumlah hotel di wilayah Provinsi Banten justru semakin bertambah. Penambahan hotel baru terdapat di daerah wilayah Kota Serang, di Tangerang juga bertambah, belum lagi usaha rumah makan.

Hal ini, kata Ashok, menandai bahwa antusias usaha di bidang pariwisata  semakin berkembang di Banten. “Harus diakui, bahwa pengurangan penghasilan di masa Covid 19 saat ini, tidak lebih baik dibanding dengan penghasilan di tahun 2008. Tapi setidaknya,  bertahannya perusahaan hotel dan restoran mengahdapi situasi pandemic seperti saat ini sangat luar biasa.

Agar situasi tak terus memburuk, terhadap pengusaha wisata ini, Ashok yang sudah malang melintang di dunia tersebut mengatakan, peran pemerintah daerah sangat diharapkan. “Peran yang diminta oleh pengusaha hotel, yakni tentang sejumlah kegiatan pemerintah daerah agar dilakukan di hotel-hotel dalam wilayahnya sendiri,” tuturnya.

PHRI Banten dan Serang menyadari, lanjutnya,  bahwa pemerintah pusat dan daerah sudah begitu banyak membantu pihak pengusaha hotel dalam memberikan kemudahan. Sejumlah aturan kunjungan tamu ke hotel oleh pemerintah daerah di Provinsi Banten, serta Pemerintah kabupaten/kota tidak diterlalu ketat, namun tetap mematuhi perotokol kesehatan ini saja sudah sangat membantu berlanjutnya perusahaan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno,  mengakui, bahwa dampak dari pandemi untuk pariwisata dan ekonomi kreatif sangat dahsyat. Secara nasional, penurunan wisatawan mancanegara mencapai 75 persen dan wisatawan nusantara anjlok hingga mencapai 30 persen.

Akibatnya kata Sandiaga, Lebih dari 2 juta masyarakat kehilangan pekerjaan dari total 34 juta yang bergerak di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. “Ada tiga  pilar utama untuk pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif yaitu inovasi, adaptasi dan kolaborasi,” katanya.

Menurutnya, sebagai bangsa yang besar sudah seharusnya kita berkolaborasi, jangan asik berkompetisi. “Kita juga jangan lupa melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi digital dan beradaptasi ditengah pandemi dengan mengedepankan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin,” tuturnya.

Sandiaga Uno menyebutkan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah meluncurkan hibah tahun lalu dan sudah diterima sebanyak Rp 2.3 triliun. Total anggaran seluruhnya sebanayak Rp 3.3 triliun.

Disebutkan, alokasi anggaran dari pemerintah antaranya digunakan untuk memberikan desinfektan gratis kepada seluruh tempat usaha pariwisata, khususnya hotel dan restoran. Selain itu, dana tersebut juga dialokasikan untuk modal pembelian alat pengukur suhu tubuh kepada hotel dan restoran.

“Tentunya masih banyak hal-hal lainnya dengan alokasi dana tersebut. Kita ingin memberikan program untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen dan membantu usaha pariwisata di seluruh wilayah Indonesia dalam situasi wabah covid-19 saat ini,” tuturnya.

Meteri pariwisata juga mengimbau, kepada seluruh pemerintah daerah di Indonesia untuk tidak menjadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai instrumen target capaian tahun berjalan dalam situasi wabah COVID-19 sedang berlangsung. Khususnya, bagi daerah-daerah yang telah ditetapkan sebagai 10 destinasi wisata prioritas di Indonesia. (Wisnu/Red 01)

 


Share this article

Related posts