leonews.co.id
Headline Hukum

Irma Huta Barat, Civil Society Indonesia : AdaYang Salah Dalam Kepolisian Kita

Civil Society Indonesia, Irma Huta Barat,(Gambar Milik Kompas)
Share this article

SERANG (leonews.co.id) – Bhayangkara Dua (Bharada),  adalah pangkat yang disandang Deolipa Yumara, atau Barada E, atau juga tersangka tembak mati Brigadir Polisi Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J  di rumah dinas Ferdy Sambo, Duren III, Jakarta Selatan,   8 Juli 2022.

“Rosti Simanjuntak, ibunda Brigadir J, saat ini sedang sakit dan tidak bisa tidur nyenyak,” kata  Civil Society Indonesia, Irma Huta Barat, dalam Chanel You  Tube Lawyer Indonesia Club (ILC) yang dipandu Karni Ilyas.

Menurut Irma, itu terjadi bukan saja karena anaknya sudah mati dan petinya yak boleh dibuka. Tapi juga mendapat tekanan dan mendapat fitnah bahwa anaknya melakukan pelecehan seksual.  “Ada saksi kunci yang saat ini hanya bisa menangis namun tak bisa bicara,” kata Irma, tanpa menjelaskan siapa saksi kuncidimaksud.

Sebagai seorang ibu, lanjut Irma, betapa pedihnya kehilangan anak dengan cara seperti peristiwa itu.  “ Kepada polisi, berhentilah membuat karangan baru,  tentang kematian Brigadir J, karena apapun yang akan dikarang saat ini masyarakat tak lagi mau percaya dan tidak akan laku,” tegasnya.

Tadi,lanjut Irma, pihak kepolisian memberi penjelasan kepada wartawan, bahwa Ferdi Sambo, ditahan di dalam ruangan satu  kali dua meter,  dengan satu WC dan satu Kamar Mandi di Mako Brimob Kelapa dua. “Untuk penjelasan yang disampaikan ini, hanya Kera yang bisa percaya,” tutur Irma, dengan intonasi suara tinggi,  sambil merubah posisi duduknya dalam acara itu.

“Sudah terjadi kebohongan. Kebohongan itu berlumur darah dan ada nyawa yang tidak bisa lagi dikembalikan. Lalu kebohongan apalagi yang akan dilakukan,” tuturnya.

Disebutkannya, Polisi adalah asset bangsa.  Pada hakekatnya  sesuai konstitusi,  fungai polisi ada tiga. Yang pertama melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

Namun yang juga paling penting lagi lanjutnya,  adalah aparat penegak hukum.  “Kita rakyat Indonesia jangan dianggap sebagai kera yang serba tidak tau,” tuturnya.

Dengan kejadian tewasnya Barada J ini,  membuat kita berfikir, ehh… jangan –jangan sering sekali polisi melakukan TKP-TKP yang dikarang-karang. “ Atau jangan-jangan begitu banyak penghilangan barang bukti Obstruction of justice yang tidak diketahui,” katanya, seraya menambahkan, sekali ini ketauan.

Menurut Irma,  sambil merubah posisi duduknya, jika hal seperti dibunuhnya Brigadir J ini, terus dibiarkan bukan main-main, We are leading to devil step. Dalam kasus Brigadir J itu, sebut Irma, sudah ada dua yang ketauan sekarang.

Pertama ketidak mampuan polisi melindungi yang lemahuntuk mendapat keadilan, selanjutnya hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah dan aparat penegak hukum.  Jika hal ini terus dibiarkan, kata Irma, maka kita menjadi Negara yang gagalkan

Irma menegaskan, polisi itu bukan militer, tapi gayanya seperti militer. Berkaitan dengan senjata glok. “ Saya punya teman jendral di TNI Angkatan Udara. Senjata itu isinya 17 peluru dan hanya boleh digunakan untuk latihan oleh para jendral di Tentara Nasional Indonesia (TNI),”  tutur Irma.

Irma menanyakan mengapa senjata jenis itu, dipegang oleh polisi berpangkat rendah. Kalau jawabnya untuk melakukan pengawalan terhadap jendral, sedang terjadi apa di negeri ini. Apakah ada ancaman kepada jendral tersebut, siapa yang mengancam, mengapa diancam dan seterusnya.

Tentang senjata Glok tersebut, disampaikan pemandu acara ILC Karni Ilyas,  harganya mencapai 10 ribu dolar.

 

Editor    : Wisnu Bangun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Share this article

Related posts