leonews.co.id
Headline Hukum

Pemerkosa 12 Santriwati Divonis Mati

Herry Wirawan, pemerkosa 13 santri wati saat mendengarkan vonis nati di Pengadilan Tinggi Banten Selasa 5 April 2022. (foto Humas PT Bandung)
Share this article

Leonews.co.id  – Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung memperberat hukuman Herry Wirawan,  pemerkosa 13 santri wati dari penjara seumur hidup menjadi hukuman mati. Ketua majelis hakim,  Herri Swantoro menilai,  Pengasuh Poondok Pesantren (Ponpes) Tahfidz Al Ikhlas dan Tahfidz tersebut, perbuatan Herry Wirawan termasuk kejahatan paling serius atau The Most Serious Crime.

Dokumen Vonis tertuang, Senin 4 April 2022. Dalam dokumen disebutkan, bahwa sesuai dengan yang telah dipertimbangkan oleh Majelis Hakim Tingkat Pertama. Maka Majelis Hakim tingkat banding berkeyakinan pula bahwa perbuatan terdakwa tersebut terbukti termasuk dalam kategori kejahatan sangat serius (the most serious crime).

“Dalam hukum internasional, suatu kejahatan dikategorikan sebagai the most serious crime karena tindak pidana itu merupakan perbuatan yang keji dan kejam serta menggoncangkan hati nurani kemanusiaan,” kata  Herri Swantoro, Selasa, 5 April  2022.

Majelis menilai, perbuatan Herry Wirawan dilakukan secara sistematis sudah memenuhi unsur kejahatan serius. Adapun unsur yang dimaksud terkait perbuatan terdakwa memanipulasi dan tipu muslihat, iming-iming dan janji, kekerasan seksual yang dilakukan terdakwa berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak perempuan yang masih di bawah umur.

Perbuatan yang dilakukan terdakwa tidak hanya menyerang kehormatan fisik anak-anak, melainkan juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan emosional para santri.

Kemudian kekerasan seksual oleh terdakwa dilakukan secara terus menerus dan bersifat sistematik, terdakwa menggunakan simbol-simbol agama dan pendidikan sebagai salah satu cara dan upaya manipulatif serta justifikasi dalam mewujudkan niat jahatnya (mens rea) untuk melakukan kejahatan.

Perbuatan yang dilakukan terdakwa telah menimbulkan dampak yang luar biasa, yang menimbulkan keresahan dan ketakutan sosial dan anak-anak santriwati berpotensi menjadi korban ganda. Karena menjadi korban kekerasan seksual sekaligus menjadi korban demi keuntungan ekonomi dari pelaku, yang dapat menimbulkan dampak sosial dalam berbagai aspek.

Majelis Hakim juga beralasan pemberian hukuman mati terhadap Herry Wirawan,  guna memberikan keadilan bagi korban. Tidak hanya itu, majelis berpendapat hukuman mati lebih pas ketimbang vonis penjara seumur hidup.

“Suatu hal yang menjadi kekhawatiran terhadap hukuman seumur hidup terhadap praktik pelaksanaan pemidanaannya. Dalam praktik pidana seumur hidup acapkali berubah menjadi hukuman selama waktu tertentu, karena alasan-alasan perubahan sikap dan perilaku terpidana. Bahkan melalui pengurangan hukuman ataupun remisi serta pembebasan bersyarat, berpotensi terpidana menjalani hukuman di bawah 20 (dua puluh) tahun,” kata hakim.

Hakim menilai perbuatan Herry Wirawan telah terbukti bersalah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Dan (5) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.

Sebelumnya, Jaksa mengajukan banding atas vonis seumur hidup yang diberikan majelis hakim terhadap Herry Wirawan. Jaksa meyakini, hukuman mati patut diberikan atas perbuatan Herry memperkosa 13 santriwati.

Di tingkat banding, hukuman Herry Wirawan diperberat menjadi hukuman mati. “Menerima permintaan banding dari jaksa/penuntut umum. Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana mati,” ucap hakim di Pengadilan Tinggi Bandung.

Herry Irawan berusia 36 tahun,dalam status sudah menikah.  Pendidikan Universitas Islam Nusantara,  Jurusan Manajemen PAI.

Herry Wirawan merupakan pengelola pesantren dan boarding school di Cibiru, Kota Bandung. Perbuatan keji yang dilakukan yang sempat memiliki julukan predator ini, memperdaya para santri di bawah bimbingannya dengan alas an  bahwa istrinya tidak mau punya banyak anak dan tidak boleh memiliki anak lebih dari dua.

Daam melakukan aksi bejatnya, Herry mengiming-imingkan janji kepada para korbannya. Antara lain janji yang disampaikan kepada korban mulai dari membiayai kuliah, menjadi pengurus pesantren sampai dengan dijadikan polisi wanita (polwan).

Dalam dakwaan jaksa disebutkan, bahwa sebelum beraksi Herry kerap menggunakan jurus ampuhnya yang membuat para santriwati tidak berdaya. Dalam pelajaran Herry kerap mengatakan bahwa murid itu, harus taat kepada guru.

Dari 12 korban santriwati beberapa di antaranya hamil dan sembilan bayi lahir. Tidak hanya itu, masih ada dua bayi yang hingga kini masih dalam kandungan.

Editor                   : Wsmu Bangun

 


Share this article

Related posts