leonews.co.id
Berita Pilihan Headline Hiburan Nusantara

Sipitak dari Hokian: Kisah Ketulusan dan Kedermawanan Julianto Limans

H Yulianto Limans (Foto Wisnu)
Share this article

Setiap orang memiliki cerita masa mudanya sendiri, namun tidak semua orang bisa merawat ketulusan hati setelah melewati kerasnya tempaan hidup.

Bagi orang-orang yang mengenalnya dekat, pria ini adalah sosok sahabat sejati yang kejujuran dan kedermawanannya selalu bisa diandalkan.

Nama lengkapnya H. Julianto Limans, seorang mualaf yang lahir di Hokkian pada 18 Agustus 1948. Akrab disapa Yuli.

Masa remajanya dihabiskan di kawasan Jakarta Pusat sambil mengenyam pendidikan di SMP Chandranaya.

Jendela Dunia di Balik Lembar Ensiklopedia

Di masa mudanya, saat anak-anak lain menghabiskan waktu dengan bermain di luar, Yuli memiliki dunia tersendiri yang sunyi namun padat.

Ia adalah seorang pelahap buku. Bacaan kesukaannya bukanlah komik hiburan, melainkan deretan jilid Ensiklopedia.

Dari lembar-lembar tebal berdebu itulah rasa ingin tahunya yang raksasa dipupuk.

Buku-buku itu menjadi jendela dunia bagi Yuli muda, membentuk cakrawala berpikirnya menjadi sangat luas, detail, dan penuh perhitungan.

Kegemaran membaca ensiklopedia ini secara tidak langsung membangun fondasi karakternya di masa depan: seorang pria yang tidak hanya tegas, tetapi juga memiliki kedalaman wawasan yang luar biasa.

Didikan Rotan dan Kehilangan Terbesar

Di balik keseruan dunia remaja masa itu—di mana ia sempat mendapat julukan “Sipitak” karena bekas luka di kepalanya—Yuli tumbuh di bawah didikan ayah yang sangat disiplin.

Sebagai putra seorang pengusaha sukses era GANEFO 1963, Yuli dituntut untuk menjadi pribadi yang pintar, tangguh, dan berwawasan luas.

Namun, di balik ketegasan fisik itu, terselip kasih sayang yang luar biasa.

Yuli mengenang, suatu hari ketika ia dikurung di dalam kamar sebagai hukuman oleh ayahnya.

Begitu terbangun dari tidur pulasnya, ketegangan itu mencair saat ia menemukan seekor anak anjing kecil di kolong ranjangnya—hewan impian yang selama ini ia idam-idamkan.

Sayangnya, kebersamaan dengan sang ayah harus usai lebih cepat.

Saat Yuli belum lulus SMP, sang ayah wafat di usia muda akibat kecelakaan di sekitar Pasar Pagi.

Kehilangan ini memaksa Yuli dewasa sebelum waktunya, membawa seluruh bekal kedisiplinan ayah dan pengetahuan dari ensiklopedia masa kecilnya untuk bertahan hidup.

Titik Balik Spiritual dan Tangan yang Mengulur

Perjalanan hidup membawa Yuli pada titik balik spiritual besar ketika ia memutuskan memeluk agama Islam.

Sebagai mualaf, keyakinan ini ia hidupi dengan penuh ketulusan.

Puncaknya terjadi pada tahun 1995 ketika ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

Bagi seorang Julianto Limans, berkah tidak pernah dinikmati sendiri.

Ia memboyong adik satu-satunya, Carin, serta sejumlah teman dekatnya untuk berangkat haji bersama.

Yang luar biasa, Yuli menanggung seluruh biaya keberangkatan mereka dari kantong pribadinya.

Aksi nyata ini menjadi bukti betapa ia menempatkan keluarga dan persahabatan di atas materi.

Nilai spiritual ini pula yang kini diwarisi oleh putra sulungnya, Budi, yang aktif dalam dunia dakwah sebagai musafir di berbagai daerah.

 Oase di Dunia yang Dinamis

Agustus ini menjadi momen yang sangat spesial bagi Julianto Limans.

Tulisan ini dihadirkan sebagai hadiah kenang-kenangan ulang tahun untuk menghormati kebaikan hatinya yang tak terhitung.

Bagi Wisnu dan orang-orang di sekelilingnya, Yuli adalah oase ketulusan di dunia yang makin dinamis.

Ia telah banyak mengulurkan tangan, memberikan bantuan moral maupun finansial di saat-saat paling krusial.

Karakter utamanya yang paling melekat adalah kejujuran tanpa kompromi.

Selamat ulang tahun, Abang Yuli.

Terima kasih atas segala kebaikan, ketulusan, dan teladan hidup yang telah Abang berikan kepada saya selama ini.

Semoga kesehatan, panjang umur, berkah, dan kebahagiaan selalu menyertai setiap langkah hidupmu.

Persahabatan ini akan abadi.

— Wisnu Bangun, Sahabat & Penulis.

 


Share this article

Related posts