leonews.co.id
Berita Pilihan Headline

Catatan Meliput Covid 19 di Banten

Gambar ilustrasi. (Foto Istimewa)
Share this article

Oleh : Wisnu Bangun

Embun bercampur dengan sisa bekas air hujan malam tadi, masih menggenang di dedaunan. Suara pengeras suara dari mushola dan masjid tentang ada warga yang meninggal dunia kembali diumumkan.

Tidak tau persis, sudah berapa orang warga di lingkungan saya tinggal,   menemui ajal secara berturut-turut sejak beberapa bulan terakhir,  karena terpapar virus corona (covid 19). Saya bergegas mandi dan langsung menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten menggunakan sepeda motor.

Hanya berjarak sekitar tiga kilo meter, di sepanjang jalan menuju rumah sakit dari tempat saya tinggal di  Kota Serang terpasang bendera berwarna kuning. Puluhan bendera dari kertas minyak itu,  terpasang di sejumlah rumah warga dan ujung-ujung jalan tanda bahwa ada yang meninggal dunia.

Rata-rata bendera tersebut dalam keadaan masih utuh, seperti baru dipasang. Sedangkan di rumah warga yang diumumkan di mushollah sebelum saya berangkat ke rumah sakit tadi, belum dipasangi bendera kuning.

Di gerbang RSUD Banten, saya berpapasan dengan dua ambulance  yang masing-masing membawa jenazah. “Mau diantar pulang ke rumahnya,” kata salah seorang Satuan Petugas Keamanan (Satpam) Rumah Sakit, ketika saya tanya.

Saya lupa bertanya, siapa nama petugas Satpam berbadan kekar tersebut. Saya juga lupa mencatat papan nama yang ada terpasang di dadanya.

Selang beberapa saat kemudian, dua ambulance  lain meraung masuk ke areal rumah sakit. “Itu pasien baru. Tapi gak tau yaa…dapet tempat apa nggak. Karena semua bangsal dan lorong-lorong rumah sakit penuh,” kata Satpam tersebut.

Pada hari itu, hampir lima jam  saya berada di depan RSUD Banten. Selama di sana saya menyaksikan, tidak kurang dari 20 ambulance dari berbagai daerah keluar masuk bergantian.

Petugas melarang saya mendekat ke gedung rumah sakit. Namun dari balik jeruji pagar, saya melihat petugas rumah sakit sangat sibuk hilir-mudik,  bahkan ada yang setengah berlari.

Dari balik jeruji pagar saya melihat sejumlah pasien tergolek di atas tempat tidur, di lobby rumah sakit. “Mereka belum dapat ruangan. Seluruh ruangan penuh,” kata Satpam tersebut.

Sebelum waktu sholat ashar saya berpindah ke Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang,  yang berjarak sekitar lima kilo meter dari tempat semula. Di sini saya juga dilarang oleh Satpam setempat mendekati gedung—dengan alas-an berbahaya tertular.

Keadaannya juga tak jauh berbeda. Petugas Satpam menyampaikan seluruh ruang rawat penuh.

Dari Pos Satpam, saya melihat sejumlah petugas sedang menurunkan pasien dari ambulance, namun tak langsung dibawa masuk ruangan. Mungkin diantara petugas ada yang sedang mengatur tata letak tempat tidur, agar pasien baru bisa dimasukan ke dalam ruangan.

Melalui pesan WhatsApp (WA) Humas RSDP ,  Khairul Anam mengatakan,  bahwa pihaknya sudah tidak bisa menerima pasien rujukan COVID-19 lagi karena sudah penuh. Kondisi itu katanya, sudah juga disampaikan ke semua RS yang lain.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti saat itu mengatakan, covid 19 tidak saja menyita seluruh ruang rawat inap dan ruang ICCU—tapi juga kurangnya ketersediaan tempat tidur di seluruh rumah sakit di Banten.

Kondisi itu, membuat Pemerintah Provinsi Banten menambah tempat tidur sebanyak 2.960, untuk pasien Covid-19 di seluruh rumah sakit  Kabupaten/kota.

Ati menggambarkan,  untuk ICU, kapasitas seluruh tempat yang ada hanya 337 dan sudah terpakai 304 tempat atau sudah mencapai 90,21 persen.

Jumlah orang terpapar covid 19 di Provinsi Banten saat itu,  mencapai 700 hingga 800 orang perharinya.  Dari delapan kabupaten/kota,  wilayah Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang masuk dalam zona merah.

Tidak hanya orang biasa, pihak Dinas Kesehatan Provinsi Banten, mencatat, sedikitnya ada 12 dokter meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Mereka semuanya anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Banten

Menjelang waktu shalat isya, saya bermaksud kembali ke rumah. Namun sebelum tiba di rumah,  laju kendaraan yang saya tumpangi terhenti.

Saya diberhentikan warga. Salah seorang diantaranya mengabarkan bahwa ada tokoh kampung tempat saya tinggal,  meninggal dunia beberapa jam lalu.

 

 


Share this article

Related posts