leonews.co.id
Berita Pilihan

Tanpa Masker, di  Pasar Tradisional Banten  

Antara pedagang dan pembeli di salah satu pasar tradisional (Foto Ilustrasi garudanews.id)
Share this article

 SERANG (leonews.co.id) – Hampir sebagian besar pasar tradisional di wilayah Provinsi Banten tak mentaati protokol kesehatan. Antara pedagang dan pembeli berdesakan sambil melakukan transaksi penjualan tanpa menggunakan masker, namun tak ada teguran dari pihak terkait termasuk pengelola pasar. 

Sejumlah pedagang dan pembeli di Pasar Tradisional Rau dan  Pasar Lama, di Kota Serang mengaku bebas melakukan jual beli tanpa menerapkan protokol kesehatan. “nggak ada teguran kok, dari petugas,” kata Yani (34) tahun salah seorang pedagang sayuran di Pasar Rau, Kota Serang.

 Dia mengaku, baik pengelola pasar dan petugas lainnya belum pernah melakukan teguran terkait tak menggunakan masker ini. “Saya hanya menggunakan masker kalo mau pulang kerumah sehabis berdagang, karena takut ditangkap polisi,” tuturnya.

 Hal yang sama juga terjadi terhadap pedagang dan pembeli di Pasar Lama, Kota Serang. Di pasar ini, baik pedagang dan pembeli sebagiann besar tak menggunakan masker, namun tak ada teguran dari pihak manapun termasuk pengelola pasar.

 Di dua pasar ini, hampir seluruh aktifitas  transaksi antara pedagang dan pembeli yang berdesakan — sebagian besar tak mengindahkan protokol kesehatan (tak mnggunakan masker). 

 Pemerhati Kesehatan Darmawan Hadiguna, mengingatkan,  agar pihak Pemerintah Daerah,  di Kabupaten Kota di Provinsi Banten, memperhatikan secara serius penyebaran covid 19 ini. “Pasar tradisional dan tempat industri dalam sekala besar, sangat berpotensi menjadi penyebaran covid 19,” katanya.

 Menurutnya, hampir seluruh pasar tradisional di wilayah Provinsi Banten, tak menerapkan protokol kesehatan secara baik. Hal ini, tergambar pada sebagian besar pedagang maupun pembeli tanpa menggunakan masker, namun tak mendapatkan teguran dari pihak manapun, termasuk pihak pengelola pasar.

 Dia menyebutkan, kasus Covid-19 di Tanah Air yang  semakin mengganas selama dua minggu terakhir, bila dibanding dengan hari sebelumnya perlu ada kepedulian semua pihak untuk mengatasinya. Di Provinsi Banten, mobil ambulance yang mengangkut jenazah karena serangan virus ganas ini, dari berbagai rumah sakit menuju  rumah duka  terdengar beberapa jam sekali.

 Demikian juga bendera kuning, tanda ada yang sedang berduka dapat disaksikan di berbagai desa dan kelurahan setiap hari. Tidak hanya itu, penuhnya ruang rawat inap dan bangsal di hampir seluruh rumah sakit  swasta dan pemerintah daerah, adalah fakta bahwa virus asal cina ini,  terus meraja lela. 

 Di Media sosial, hampir setiap hari tidak kurang dari tiga orang dikabarkan meninggal dunia. Tak dijelaskan penyebab kematian, orang-orang tersebut, namun rata-rata dikabarkan sebelumnya dalam keadaan sehat dan meninggal dunia setelah beberapa hari mengalami sakit.

 Menurut Darma, catatan lainnya, yakni tentang ada yang terpaksa melakukan isolasi mandiri (Isoman),  karena tak kebagian ruang rawat inap di berbagai rumah sakit. Hantaman virus tak pandang bulu, dari yang masih muda belia yang sebelumnya gagah perkasa, hingga mereka yang sudah lanjuit usia.

 Dalam upaya memutus mata ranjtai penyebaran covid 19, pihak pemerintah sudah dua kali mengeluarkan peraturan. Masing-masing PSBB yang sempat beberapa kali diperpanjang, selanjutnya PPKM darurat.

Sama dengan PSBB, PPKM Darurat ini juga  sudah dilengkapi dengan sangsi,  termasuk ancaman kurungan penjara dan denda bagi yang melanggarnya. Namun faktanya, sebagian masyarakat sepertinya tetap saja abai. (Red 01)

 

 


Share this article

Related posts