leonews.co.id
Berita Pilihan

Upaya Muspika Walantaka Fasilitasi Warga Dengan Perusahaan Ayam Potong, Tak Menghasilkan Kesepakatan

Pertemuat antara warga RT 03/01 dengan Perusahaan Penggmukan Ayam difasilitasi Muspika Kecamatan Walantaka, Rabu 21 April 2021
Share this article

KOTA SERANG (leonews.co.id) – Pertemuan warga dengan pihak perusahaan penggemukan ayam (broiler) PT Ramajaya dengan perwakilan warga RT 03/01 Kelurahan Lebak Wangi, tak menghasilkan kesepakatan. Pertemuan musyawarah tersebut, difasilitasi oleh Pimpinan Kecamatan (Muspika) Walantaka, Kota Serang, di aula kantor Polsek Walantaka, Rabu 21 April 2021 malam.

Pertemuan antara warga dan pihak perusahaan dipimpin oleh Camat Walantaka Karsono, didampingi oleh Danramil serta Kapolsek Walantaka. Dalam musyawarah itu, warga tetap menolak keberadaan perusahaan penggemukan ayam tersebut berada di lingkungan mereka. Warga menuding, bahwa keberadaan perusahaan, tidak ramah lingkungan.

“ Selain menimbulkan bau busuk dan banyaknya lalat yang masuk ke pemukiman penduduk, kami sebagai warga selama bertahun-tahun tidak merasakan manfaat dari perusahaan ini,” kata Ruhijat, salah seorang tokoh masyarakat setempat dalam pertemuan itu.

Menurut Ruhijat, pada waktu panen ayam-lalat berterbangan masuk ke rumah-rumah warga dan bergerombol hinggap di makanan maupun minuman. “Padahal di masa pandemic seperti saat ini, lalat sangat berpotensi penyebaran virus,” tuturnya.

Sementara Djamaludin, salah seorang pedagang makanan di lingkungan terdekat, juga mengaku merasa sangat dirugikan oleh perusahaan penggemukan ayam tersebut. Dia mengaku banyak pembeli yang batal belanja akibat banyaknya lalat yang berkerumun di dagangannya.

Sementara Ketua RT 03/01 Purnawijaya menyebutkan, sebenarnya desakan penutupan sudah berkali-kali dilakukan oleh warga. Namun karena pertimbangan beberapa warga ada yang bekerja di situ, jadi ada toleransi. “Tapi sekarang tinggal seorang yang bekerja di situ,” katanya.

Dari sejumlah keterangan perwakilan warga, dalam pertemuan itu, Camat Walantaka Karsono, menyimpulkan bahwa penolakan terhadap perusahaan adalah dikarenakan banyaknya lalat pada saat panen. Selain adanya lalat dan bau busuk yang ditimbulkan, Karsono menyimpulkan bahwa pihak perusahaan kurang melakukan komunikasi dengan warga terdekat.

Sementara Yadi, sebagai humas dari pihak perusahaan meminta maaf atas buruknya komunikasi dengan warga. Dia berjanji akan melakukan komunikasi dengan warga lebih baik lagi termasuk meminimalisir keberadaan lalat.

Menurut Yadi, untuk mengurangi jumlah lalat yang mengganggu warga di sekitar lokasi perusahaan, nantinya akan dipersiapkan obat pembunuh lalat. “Obat lalat ini, akan diberikan pada pakan ayam atau juga dalam bentuk lain,” tuturnya.

Berkaitan dengan permintaan pihak perusahaan untuk tetap melanjutkan usaha penggemukan ayam, perwakilan warga belum memutuskan setuju atau tidak setuju. “Kami harus komunikasikan dulu dengan warga lainnya,” kata Nana. (Red 01)


Share this article

Related posts