Kemarin sore, Sabtu 1 Februari 2025, saya mengunjungi Situ Blungun di Desa Sentul, Kecamatan Keragilan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Saya berbaur di antara banyak pengunjung lain dari berbagai daerah yang juga ingin menikmati indahnya pemandangan di sekitar genangan air situ tersebut.
Situ Blungun adalah salah satu penyuplay air melalui irigasi pada sebagian wilayah persawahan di Kabupaten Serang.
Sebelumnya kondisi Situ Blungun tersebut sangat terlantar tak terurus selama bertahun-tahun. Tumbuhan liar terapung menutupi sebagian besar permukaan air.
Tidak hanya itu, pada pinggiran situ yang berbatasan dengan perkampungan penduduk dan jalan raya di wilayah itu sudah juga dipenuhi sampah dan banyak yang longsor.
Baru setelah ada desakan dari anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Serang secara berulang-ulang pada sekitar tahun 2023 akhirnya pihak Balai Besar Kementerian PUPR, sebagai pihak yang memiliki otoritas atas Situ Blungun tersebut melakukan normalisasi.
Pihak DPRD Serang, mengingatkan bahwa normalisasi Situ tersebut, bukan sekedar agar dapat digunakan sebagaimana fungsinya–tapi juga untuk menghindari konflik kepemilikan lahan di sekitar lokasi pada kemudian hari yang berujung ke pengadilan seperti banyak kasus-kasus situ lainnya.
Situ Blungun ini termasuk yang ditetapkan berdasarkan Perda nomor 1 tahun 2023 tentang rencana tata ruang wilayah provinsi Banten.
Selain Situ Blungun atau yang dikenal sebelumnya bernama Rawa Blungun, terdapat sejumlah situ lain di Kabupaten Serang. Ada Situ Cisitu, Situ Cicaban, Rawa Mandaya, Waduk Cileusung; Situ Rampones, Situ Sukacai, Rawa Bojong Herang, Situ Cibirai.
Kemudian ada juga, Rawa Kawao, Rawa Sindang Mandi, Rawa Citaman. Rawa Panembong, Situ Cibulakan, Situ Cirahap, Situ Telaga Wangsa, Situ Terate, Situ Ciherang, Waduk Cikande, Waduk Belungun.
Selanjutnya ada juga, Waduk Ciranjen, Waduk Cibulegar, Waduk Citawang, Waduk Lontar; Halaman Selanjutnya Waduk Ciligawir, Situ Ranca Gede Jakung, Rawa Bojong, Rawa Enang dan Situ Ciherang Banjar.
Di sekitar Situ Blungun, saat ini khususnya pada sore hari sudah mulai dipenuhi tukang dagang aneka jajanan. Ini menandai bahwa di sekitar tempat itu, mulai tumbuh usaha bagi warga setempat.
Wisnu salah seorang penunjung mengatakan, perlu ada pengawasan khusus oleh pihak aparat setmpat, tentang pengelolaan Situ tersebut. Diharapkan Situ blungun tidak saja sebagai tempat wisata ringan secara gratis dan juga tempat mencari ikan secara gratis.
“Boleh buat peraturan. Selain menjaga kebersihan Situ dan lingkungannya, juga umpanya Dilaran mengambil ikan dengan cara menjaring atau menggunakan racun dan lain sebagainya. Jika hal ini sukses, bisa jadi peroyek contoh bagi daerah lainnya dam menyukseskan program bapak Presiden Prabowo Subianto tentang Program Gizi gratis,” katanya.
Rodiah berumur sekitar 4o tahun, yakni salah seorang ibu yang mendirikan warung di sekitar Situ Blungun, mengaku memperoleh hasil berjualan sekitar Rp 100 ribu, bersih setiap harinya.
“Alhamdulillah, paling tidak dapat mengurangi beban suami yang hanya pekerja bangunan,” katanya menuturkan.
Selain Rodiah, pada saat saya menunjungi lokasi Situ Blungun, beberapa orang juga ikut mendirikan warung serupa yang terbuat dari bambu dan atap terpal pelastik.
Namun sayangnya, sejak Situ Blungun ramai dikunjungi sampah plastik dan bekas minuman mulai berserakan di sana-sini. Kesadaran pengunjung dan pedagang di sekitar tempat itu tentang kebersihan masih sangat rendah, dan mengancam di sekitar lokasi akan menjadi kumuh.
Selain itu, bila pihak aparat setempat tak segera melakukan antisipasi Situ Blungun yang tadinya diminati oleh masyarakat untuk dikunjungi sebagai arena wisata gratis terancam sepi. Terlebih munculnya para tukang-tukang parkir liar yang meminta uang dengan dalih jasa parkir dan keamanan. (Red 01/Dina K)