Oleh: Wisnu Bangun
Di tengah stigma birokrasi yang sering dianggap kaku dan berjarak, sosok Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi Banten, Arif Agus Rakhman, S.IP., M.Si., hadir membawa warna yang berbeda.
Bagi dirinya, jabatan struktural adalah amanah yang harus dijalankan secara profesional.
Namun di samping tanggung jawab formal itu, adab dan rasa hormat tetap menjadi landasan utama dalam interaksinya sehari-hari.
Pria yang akrab disapa Arif—atau yang populer di kalangan sejawat dengan panggilan “Arif Koper”—ini dikenal luas sebagai figur pencair formalitas antara pejabat dan warga biasa.
Dalam keseharian, Arif memiliki kebiasaan unik yang menunjukkan kerendahan hatinya.
Saat terlibat dalam diskusi ringan atau obrolan santai, ia selalu menyematkan sapaan “Kakak” saat menceritakan atau menyebut nama para seniornya.
Menariknya, ia juga selalu membiasakan diri menyebut namanya sendiri—bukan kata ganti “saya” atau “aku”—ketika sedang berbicara dengan para senior maupun rekan sejawatnya.
Panggilan hormat kepada senior tersebut tetap ia gunakan dengan tulus, meski sosok yang dimaksud sedang tidak berada di tempat atau tidak ikut berkumpul bersama mereka.
Contohnya, ia akan spontan menyebut tokoh mumpuni Uday Suhada dengan panggilan “Kak Uday” saat mengobrol.
Ia juga terbiasa menyebut Ade Hahajari, mantan wartawan TEMPO yang lama bertugas di Banten, dengan sapaan akrab “Kak Adek”.
Adab santun ini bukan sekadar pemanis kata di depan orangnya langsung, melainkan sudah mendarat menjadi karakter nyata.
Arif pun selalu mencium tangan setiap bersalaman dengan orang yang lebih tua.
Ia tidak peduli apakah sosok itu pejabat tinggi atau warga dari kalangan bawah.
Bagi Arif, menghormati sesama adalah kewajiban yang berjalan beriringan dengan tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Ketegasan yang Memudahkan
Rekam jejak Arif sebagai abdi negara telah teruji lewat perjalanan panjang.
Mengawali dedikasi sebagai PNS sejak Desember 2001, berbagai posisi strategis di Pemprov Banten pernah diemban.
Fondasi kepemimpinannya diperkuat oleh latar belakang pendidikan sebagai lulusan S1 Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta, serta magister (S2) dari Universitas Satyagama, Jakarta.
Berkat dedikasi tanpa putus tersebut, ia dianugerahi penghargaan Satya Lencana Karya Satya X pada tahun 2014, serta Satya Lencana Karya Satya XX pada 2022 dari Presiden Republik Indonesia.
Sebelumnya, ia sempat dipercaya mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kominfo Banten selama beberapa bulan.
Puncaknya, Arif resmi dilantik oleh Gubernur Banten Andra Soni sebagai Kepala Biro Adpim.
Pelantikan berdasarkan SK Gubernur Banten Nomor 580 Tahun 2025 ini, menjadi langkah penyegaran birokrasi di Tanah Jawara.
Sebagai pimpinan, Arif memegang prinsip tegas: integritas adalah harga mati.
Ia konsisten menolak segala bentuk praktik menyimpang dan gratifikasi dalam setiap proses kerja.
Meski tegas, aturan itu tidak membuat alur kerja menjadi kaku atau menegangkan.
Sebaliknya, Arif selalu memutar otak agar birokrasi berjalan ringkas, mudah, cepat, dan tanpa belitan prosedur.
Pintu Terbuka dan Meja Makan Bersama
Keluwesan karakter pria kelahiran 5 Agustus 1977 ini, membuatnya sangat dicintai rekan sejawat serta kalangan jurnalis.
Di sela agenda padat, Arif kerap singgah untuk bercengkerama dengan para awak media.
Pertemuan hangat itu biasanya terjadi di Sekretariat Pokja Wartawan Harian Pemprov Banten.
Suasana santai juga selalu terasa di ruang kerja resminya.
Pintu ruangan Arif seolah selalu terbuka bagi siapa saja.
Tidak hanya wartawan, sejumlah pegawai hingga pejabat lintas instansi sering datang bertamu.
Bukan membahas urusan formal, mereka datang sekadar untuk berdiskusi ringan dan bertukar pikiran.
Di meja kerjanya, sekat pimpinan dan bawahan lebur bersama aroma makanan luar yang dibawa sendiri oleh para tamu.
Sikap komunikatifnya tidak berhenti di ruang kerja semata.
Di tengah kesibukan yang menyita waktu, Arif selalu mengupayakan diri untuk menjawab setiap panggilan telepon maupun pesan WhatsApp yang masuk dari mana pun.
Jika situasi pada saat bersamaan sedang benar-benar tidak memungkinkan, ia pasti akan menyempatkan diri untuk membalas pesan tersebut beberapa waktu kemudian.
Di mata rekan kerja, Arif bukan sekadar pimpinan, melainkan sahabat karib yang rendah hati.
Menjadi Ayah yang Utuh
Di balik sorot lampu jabatan publik, Arif menarik garis batas tegas antara ruang kerja dan keluarga.
Saat pulang, ia kembali menjadi pria bersahaja yang mendampingi istri, seorang dosen Bahasa Inggris di IAIN Banten.
Menariknya, hingga kini Arif memilih menyembunyikan posisi eselonnya dari anak-anak.
Langkah ini diambil agar anak-anak tumbuh mengenal Arif sebagai ayah yang utuh, bukan karena bayang-bayang kekuasaan.
Ia tidak ingin anak-anaknya melihat sang ayah dari status struktural atau jabatan birokrasi.
Semua laku hidup, baik di kantor maupun rumah, bermuara pada satu prinsip kesederhanaan yang dipegang teguh.
“Tak ingin menjadi beban bagi siapa pun, menjalani tugas semestinya, dan sebisa mungkin membawa manfaat,” tutur Arif menutup perbincangan.