Oleh Wisnu Bangun
Menghabiskan lebih dari separuh hidupnya atau tepat 26 tahun mengabdi pada negeri, Dr. H. R. Achmad Dimyati Natakusumah, S.H., M.H., M.Si. membuktikan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari fondasi moral yang kuat.
Resmi mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Banten periode 2025–2030 mendampingi Gubernur Andra Soni.
Dimyati kini menjadi sorotan publik bukan hanya karena rekam jejak panjangnya sejak awal berdirinya Provinsi Banten, melainkan karena karakternya yang unik.
Di balik pembawaannya yang tenang, humoris, namun tanpa kompromi terhadap bawahannya yang coba-coba bermain kesalahan dengan hukum, termasuk kepada kepala sekolah yang berani nakal di SPMB.
Seluruh dedikasi politiknya merupakan cermin nyata atas keteladanan orang tua serta kelembutan akar budaya Banten Kulon yang melekat kuat sejak kecil.
Kiprah panjang di pemerintahan ini dimulai sejak 6 November 2000, ketika Dimyati pertama kali dilantik sebagai Bupati Pandeglang di Provinsi Banten.
Momen bersejarah itu bertepatan dengan tahun pertama berdirinya Banten sebagai provinsi mandiri, setelah resmi berpisah dari Jawa Barat.
Menjabat dalam usia yang relatif muda di era awal pemekaran daerah, ia sukses memimpin Pandeglang selama dua periode hingga Oktober 2009.
Setelah menuntaskan mandat di tingkat daerah, Dimyati memutuskan hijrah ke Jakarta untuk berjuang di Senayan sebagai Anggota DPR RI sejak 1 Oktober 2009.
Di parlemen pusat, ia bertahan selama tiga periode (2009–2024) dan sempat dipercaya mengemban posisi krusial sebagai Wakil Ketua MPR RI pada tahun 2014.
Kini, rekam jejak matang dari eksekutif daerah hingga legislatif nasional tersebut dibawa pulang kembali ke Tanah Jawara.
Dimyati Natakusumah resmi mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur Banten setelah dilantik langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada 20 Februari 2025.
Kehadirannya di Pemprov Banten mendampingi Gubernur Andra Soni merupakan buah dari kepercayaan besar rakyat, setelah pasangan ini berhasil meraup 3.102.501 suara sah 55,88 persen.
Di balik ketegasannya sebagai pejabat publik, gaya kepemimpinan Dimyati merupakan representasi atas keteladanan orang tua dan akar budaya Banten yang kuat.
Gelar “Raden” (R.) yang disandangnya merupakan warisan luhur yang mengalir dari garis keturunan sang ibunda, almarhumah Hj. Ratu Cicih Kurniasih.
Dalam tradisi Banten Kulon, sematan gelar Ratu (Rt.) pada sang ibu menandakan garis keturunan priyayi pembesar daerah yang memiliki kedekatan kultural yang kuat dengan masyarakat setempat.
Sementara dari garis kakeknya, ia merupakan cucu dari tokoh masyarakat terpandang di Banten Barat, H. Agus Samsudin.
Perpaduan didikan agama yang ketat dari orang tua serta nilai kesantunan kultur Sunda-Banten membentuk karakter Dimyati sejak kecil.
Di lingkungan keluarga kecilnya, pria yang akrab disapa “Papa Dim” oleh anak-anaknya ini bertindak sebagai mentor kehidupan yang selalu mengajarkan bahwa kekuasaan hanyalah alat untuk menebar manfaat bagi masyarakat luas.
Retorika Alami, Kehangatan Humor, dan Sisi Tegas
Satu hal yang paling ikonik dan selalu membekas di hati masyarakat saat menyaksikan Dimyati tampil di depan publik adalah kemampuan komunikasinya yang luar biasa alami.
Dalam setiap acara formal maupun informal, ia hampir tidak pernah memegang lembaran teks pidato yang biasa disiapkan oleh staf protokol pemerintahan.
Pikirannya yang runut membuat untaian kalimatnya mengalir begitu saja secara sistematis.
Cara penyampaiannya pun unik; alih-alih meledak-ledak penuh emosi politik, Dimyati selalu berpidato dengan nada suara yang rendah, tenang, bersahaja, dan kerap diwarnai humor-humor segar yang mencairkan suasana.
Sisi humanis dan kepedulian spontannya tecermin nyata saat ia menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di lapangan lahan milik PWI Banten, di Jalan Raya KH Abantani yang lama menjadi lahan kosong dan belum dibangun.
Mengetahui adanya kebutuhan krusial bagi organisasi pers tersebut, ia secara terbuka dan jenaka langsung merespons di atas panggung.
“Ya, nanti saya bantu; Saya juga tadi sudah berbisik dengan Kepala DPKAD, Ibu Rina, agar dibantu,” ujar Dimyati kala itu.
Sambil berseloroh, ia kemudian menambahkan, “Kalau lama tidak dibangun dan difungsikan, lama-lama bisa jadi Rumah Makan Padang,” yang langsung disambut tawa riuh dan tepuk tangan dari para wartawan yang memadati acara.
Namun jangan salah, di balik pembawaannya yang jenaka dan tenang, Dimyati menyimpan ketegasan tanpa kompromi jika menyangkut integritas pelayanan publik, terutama di sektor pendidikan.
Dalam sebuah kegiatan inspeksi mendadak (sidak) pemantauan lapangan, Dimyati secara blak-blakan memberikan peringatan keras dan berjanji akan langsung memecat kepala sekolah yang terbukti “nakal” atau melakukan kecurangan selama proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Baginya, pemerataan kualitas pendidikan dan keadilan bagi calon siswa adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun.
Tempaan Akademis dan Karier Pengusaha
Sebelum terjun ke dunia politik, Dimyati telah menempa kemandiriannya sebagai pengusaha sukses di bidang konstruksi dan perbankan daerah (BPR) pada era 1990-an.
Kegigihan dalam berbisnis ini berjalan selaras dengan latar belakang pendidikannya yang kokoh.
Masa kecil hingga remajanya dihabiskan dengan bersekolah di SDN III Labuan, SMPN 1 Pandeglang, dan SMAN 1 Pandeglang.
Lulus dari bangku sekolah, ia sempat bertolak ke luar negeri untuk menimba ilmu di Western Australian Institute of Commerce (WAIC) Perth, Australia.
Semangat belajarnya yang tinggi terus berlanjut hingga ia dewasa.
Dimyati tercatat meraih gelar Sarjana Hukum (S1) dari Universitas Esa Unggul pada tahun 2004.
Rasa haus akan ilmu pengetahuan membawanya menempuh pendidikan pascasarjana, hingga ia sukses menggondol dua gelar Magister, masing-masing Magister Hukum (S2) dari Universitas Pasundan dan Magister Sains (S2) bidang Ilmu Politik dari Universitas Indonesia.
Puncak pencapaian akademisnya dibuktikan dengan raihan dua gelar Doktor (S3) sekaligus.
Gelar Doktor bidang Ilmu Hukum diraihnya dengan predikat Cum Laude dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2012, disusul kemudian oleh gelar Doktor bidang Ilmu Politik dari Universitas Indonesia.
Bagi Dimyati, tumpukan gelar akademis ini bukan sekadar formalitas, melainkan bekal teoritis utama untuk merumuskan setiap kebijakan publik secara ilmiah dan tepat sasaran.
Kini, memasuki babak baru kepemimpinannya di Pemprov Banten, tantangan memodernisasi daerah menanti di depan mata.
Berbekal kombinasi matang pengalaman sejak masa awal kelahiran provinsi ini, kematangan akademis, retorika publik yang mengayomi, serta fondasi moral kultural dari leluhurnya, Dimyati Natakusumah melangkah mantap membawa Provinsi Banten ke arah pembangunan yang lebih inklusif, maju, dan bermartabat.
==
- Asal usul keluarga Dimyati Natakusumah
- Biodata lengkap Wagub Banten Dimyati Natakusumah
- Trah kebangsawanan Raden Dimyati Natakusumah
- Gaya pidato humoris Dimyati