leonews.co.id – Tiga hari sejak beredarnya video Walikota Cilegon Helldy Agustian, marah-marah saat memimpin rapat evaluasi kinerja seluruh pembantu di bawah wewenangnya 6 Juni 2022 lalu, saya masih menunggu perkembangan pemberitaan di berbagai media online.
Namun rupanya tak ada perkembangan. Mungkin saja teman-teman wartawan juga menganggap berita tersebut tak lagi menarik untuk diberitakan.
Atau bisa jadi juga teman-teman wartawan merasa prihatin — terhadap kelelahan yang dirasakan oleh sang walikota, yang rela harus pulang ke rumah hingga pukul dua dini hari demi memikirkan Cilegon lebih baik dan kesejahtraan masyarakat yang dipimpinnya.
Padahal dalam waktu-waktu seperti pukul dua dini hari itu, masyarakat yang dipimpin oleh Helldy Agustian, sedang enak-enaknya meringkuk dalam selimut di rumahnya masing-masing. Atau mungkin saja sebagian besar para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, yang mendapat tugas dari Walikota juga sudah terlelap dalam dekapan keluarga masing-masing.
Salah seorang teman bernama Rosyid, ternyata juga ikut mengamati perkembangan kelanjutan berita tentang Walikota Helldy Agustian marah-marah tersebut. Menurut Rosyid, kekecewaan Helldy terhadap kinerja para pembantunya sangat wajar dan masuk akal.
“Siapa pun yang jadi pemimpin di Pemerintahan di manapun pasti kecewa terhadap kinerja bawahan yang sangat rendah,” tegasnya.
Bahkan Rosyid menyebutkan, kekecewaan Helldy memang sangat besar. Terlebih selama satu tahun masa jabatannya, sebagai Walikota Cilegon sejak 2021 pasca dilantik, telah mencatat prestasi yang tidak baik.
Hal ini terjadi karena para pembantunya di hampir semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tak melaksanakan kerja yang maksimal. Akibatnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2021, mengalami Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang mencapai Rp457,79 miliar.
Selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran yang mendekati setengah triliun rupiah tersebut, menandai gagalnya kerja yang dilakukan oleh masing-masing OPD yang membantu kerja walikota.
Penilaian buruk terhadap silpa tahun 2021 yang hampir mendekati setengah triliun tersebut, jelas berimbas mencoreng muka Helldy Agustian sebagai Walikota dan Wakilnya Sanuji Pentamarta.
Belum lagi tentang pekerjaan pada tahun anggaran 2022, yang beberapa diantaranya belum juga dilakukan pelelangan. Padahal tahun anggaran triwulan kedua sudah berlangsung.
Kemudian juga tentang janji politik kepada masyarakat pemilih Walikota Cilegon yang berhasil mengantarkan Helldy Agustian dan wakilnya menjadi Walikota.
“Kalau dibilang Helldy salah memilih para pembantu di setiap OPD, Asda dan seterusnya takut menjadi Fitnah. Tapi kalau dibilang bahwa Helldy sengaja dijerumuskan oleh para pembantunya dengan cara melakukan kerja yang tidak maksimal juga idak mungkin,” kata Rosyid.
Berkaitan dengan marah-marahnya Helldy dalam memimpin Rapat Evaluasi Kinerja para OPD, bahkan sambil menunjuk-nunjuk kearah peserta rapat adalah tindakan yang tidak etis dari seorang pemimpin. Lulusan ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini berpendapat, bahwa Helldy telah salah besar dalam bertindak.
Cara arogan yang dilakukan Helldy seperti yang terekam dalam video tersebut, menurut Rosyid, bahwa Dia, telah gagal melakukan komunikasi dengan segenap pembantunya sebagai pimpinan pejabat public.
Bahkan Helldy dianggap tak berhasil, menjadikan dirinya sebagai komando terhadap orang-orang yang membantunya (Para bawahannya termasuk OPD dan yang lainnya-Red).
Menurut Rosyid, pemimpin yang baik adalah seseorang yang pandai melakukan komunikasi dengan seluruh pembantunya. “Komunikasi ini sangat penting. Tujuannya agar sesuatu yang menghalangi kerja pimpinan dapat dicarikan solusi melalui komunikasi yang baik dengan segenap pembantunya, ” katanya.
Tentang rapat evaluasi yang diusulkan oleh Helldy, kepada para Asda yang melibatkan para Kepala OPD dinilai cukup baik. Kendati demikian, tak perlu harus dilakukan setiap minggu.
“ Karena bila dilakukan setiap minggu, akan juga menggangu waktu kerja para kepala OPD itu sendiri, yang mungkin juga akan melakukan rapat-rapat intenalnya,” tuturnya.
Yang penting lagi kata Rosyid, Helldy perlu juga menurunkan tekanan darah agar tak cepat naik keubun-ubun dan mudah marah-marah. Apalagi sambil menunjuk-nunjuk peserta rapat, yang rata-rata pastinya bukan anak-anak lagi.
Apalagi dengan ancaman akan memecat para pembantu di bawahnya sambil berteriak dan menunjuk-nunjuk “Saya tidak takut sama kalian. Memang kalian siapa. Saya hanya takut kepada Allah” .
Perlu diingat Boss, mereka yang dimarahi juga manusia dan memiliki emosi yang sama namun bisa mengendalikan. Bagaimana kalau mereka, para Kepala OPD tersebut, mengundurkan diri secara serentak. Kan akhirnya akan menjadi bertambah runyam
Editor : Wisnu Bangun