Presiden Jokowi di HPN ke76 : Pers Nasional Sebagai Pegangan dan Panduan Dalam Memilah Informasi

Presiden menyampaikan selamat Hari Pers Nasional ke 76 di Kendari, Sulteng (Foto : Istimewa)

Share this article

BANTEN (leonews.co.id) – Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang berhalangan hadir pada puncak peringatan Hari Pers Nasional ke76 di Kendari, Sulawesi Tenggara, hanya dapat memberikan sambutan secara virtual dari istana bogor. Dia, menyampaikan ucapan selamat,  kepada PWI pada Hari Pers Nasional (HPN) 2022.

Menurut Jokowi, pers adalah sebagai panduan dalam memilih informasi di tengah gencarnya pemberitaan yang simapng siur di era digitalisasi.

Dalam akun Instagram-nya, yang dikutip Rabu,  9 Februari 2022, Jokowi mengunggah foto ilustrasi tentang pers dan berisi tulisan ‘Selamat Hari Pers Nasional’.

Dalam instagram resminya itu, Jokowi menulis “Berita dan informasi datang silih berganti, tak kenal ruang dan waktu. Sebuah kabar belum tuntas dicerna, telah muncul kabar-kabar baru dari berbagai penjuru. Dari linimasa dan grup-grup percakapan, tautan-tautan di belantara dunia maya, juga yang beredar dari mulut ke mulut,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan,  pers merupakan pegangan dalam memilih informasi. Jokowi, menyebutkan, pers saat ini, berada di tengah belantara informasi.

“Beruntunglah kita masih punya sumber informasi yang segar, akurat, dan terpercaya yakni pers nasional. Keberadaan pers nasional membuat kita memiliki pegangan dan panduan dalam memilah informasi yang bermutu, mencerdaskan, dan mendorong kepada kemajuan,” kata Jokowi.

Tanggal 9 Februari 2022, menjadi momentum paling bersejarah bagi insan Pers tanah air. Karena pada tanggal itu dan bulan itu, di tahun 1946 lahirnya organisasi Persatua Wartawan Indonesia (PWI).

Usia PWI saat ini, sudah memasuki usia ke 76 tahun. Tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, puncak peringatan PWI tahun ini, memang lebih prihatin karena diselenggarakan persis di tengah-tengah masih ganasnya serangan Covid19.

Pemerintah Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sulteng),  sebagai tempat diselenggarakannya hari puncak peringatan PWI ke 76 saat itu. Tentu berharap banyak dari dampak acara tersebut.

Pemerintah setempat, tentu mengharapkan momentum yang sangat baik itu, akan menjadi sarana untuk menunjukan kemampuan dan potensi daerahnya kepada pejababat Pemerintah Pusat, yang biasa hadir pada hari-hari puncak peringatan HPN seperti saat itu.

Namun apa hendak dikata. Peringatan HPN ke 76, tahun  2022 dikendari, tak banyak dihadiri oleh pejabat Pemerintah Pusat, kecuali Meneteri Olahraga Zainudin Amali, Ketua MPR-RI Bambang Susatyo,  serta sejumlah pejabat kedutaan dari berbagai Negara.

Sedangkan dari Insan Pers, hadir Ketua PWI Pusat Atal S Depari sebagai penanggung Jawab peneyelenggaraan HPN, Ketua Umum SMSI Firdaus, Ketua Dewan Pers Moch Nuh.

Organisasi PWI, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, atas gagasan banyak wartawan saat itu. Sebagai organisasi kewartawanan, PWI sebenarnya punya sejarah panjang.

Bahkan, sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, sudah ada wadah jurnalistik untuk para wartawan pribumi pada masa kolonial Hindia Belanda  dan itulah embrio dari PWI yang masih eksis hingga saat ini.

Berdirinya PWI,  sebenarnya sudah bermula sejak masa kolonial Hindia Belanda. Mulanya adalah pembentukan Inlandsche Joernalisten Bond (IJB) pada 1914.

IJB merupakan perkumpulan wartawan sekaligus wadah persatuan dan advokasi bagi para jurnalis bumiputera atau pribumi di tengah kehidupan kolonial saat itu.

Perintis berdirinya IJB antara lain tokoh jurnalis muda bernama Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco Kartodikromo kala itu, memimpin surat kabar berkala Sarotomo dan Doenia Bergerak dari Surakarta.

Selain IJB, di Hindia Belanda (Indonesia) kala itu kemudian berdiri pula beberapa organisasi wartawan lainnya, seperti Inlandsche dan Chinesche Journalisten Bond pada 1919, Persatoean Kaoem Journalis pada 1931 dan lainnya.

Adanya beberapa organisasi jurnalis saat itu, muncullah wacana untuk menyatukan perkumpulan-perkumpulan wartawan itu, yang selanjutnya dibentuklah Persatoean Djoernalis Indonesia (PERDI), pada Desember 1933 di Surakarta.

Dalam sejarah mencapai Indonesia merdeka, wartawan Indonesia tercatat sebagai patriot bangsa  bersama para perintis pergerakan di berbagai pelosok tanah air yang berjuang untuk menghapus penjajahan.

Di masa pergerakan, wartawan bahkan  menyandang dua peran sekaligus. Dia berperan sebagai aktivis pers yang melaksanakan tugas-tugas pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional dan sebagai aktivis politik yang melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan membangun perlawanan rakyat terhadap penjajahan.

Kedua peran tersebut mempunyai tujuan tunggal, yaitu mewujudkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.

Editor  : Wisnu Bangun

 


Share this article

Related posts

Satu Dekade Bank Banten, Pengamat: Jangan Klaim ‘Karpet Merah’ Pemda Sebagai Prestasi Kerja

Sipitak dari Hokian: Kisah Ketulusan dan Kedermawanan Julianto Limans

Krisis Air Bersih Menahun di Serang Utara, DPRD Didesak Kunci Anggaran Tandon Desa dan Pipa PDAM pada APBD 2027