Oleh : Wisnu Bangun
Mulyadi Jayabaya (JB), merupakan bupati ke 19 Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, tahun 2003. Jabatan ini didudukinya hingga dua priode 2003-2013.
Karir politik dimulainya sejak menjabat sebagai Ketua Gapensi di wilayah paling ujung Provinsi Banten. Naluri membangun daerah dan mengangkat perbaikan kehidupan masyarakat sangat kuat berkecamuk dalam dirinya.
Tahun pertama saat menjabat sebagai bupati, di Kabupaten lebak adalah memperbaiki wajah kota. Rangkasbitung sebagai Ibu Kota daerah itu, dirombak total.
Jalan yang berada di Pusat Kota diperlebar dua kali lipat dari sebelumnya untuk semua arah. Gedung pemerintahan yang sebelumnya menggunakan peninggalan Belanda dipercantik dan ditambah dengan bangunan baru empat lantai.
Masjid raya yang berhadapan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Lebak di rombak total menjadi sangat megah. Sedangkan lapangan kosong tidak produktif yang berhadapan dengan masjid raya dan kantor pemerintahan dirubah fungsi menjadi arena bermain keluarga agar lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Pembangunan jalan-jalan dilakukan juga di dalam perkampungan penduduk, termasuk ke wilayah pedesaan. Jalan adalah nadi kehidupan, kata Mulyadi Jaya Baya, saat berbincang-bincang dengan saya, saat itu.
Menurutnya, dengan jalan yang baik maka roda ekonomi akan berputar secara normal. Dengan kondisi jalan yang baik akan mempermudah masyarakat untuk melakukan berbagai hal dalam memenuhi hajat hidupnya.
Mulyadi Jaya Baya, merupakan sosok yang selalu berinovasi untuk menuju hal yang lebih baik. Karakter yang tak kenal menyerah, merupakan darah yang dialirkan oleh ayahnya.
Ayah Mulyadi Jaya Baya, adalah mantan kepala desa yang tak tergantikan sampai akhir hayatnya. Pigur ayahnya ini, melekat dalam perjuangan Mulyadi Jaya Baya dalam setiap kepemimpinannya, baik di bidang organisasi maupun pemerintahan.
Angka kematian ibu melahirkan dan kematian bayi yang cukup tinggi di Kabupaten Lebak, akibat terlambat penanganan medis – menjadi perhatiannya secara khusus saat menjabat bupati di priode pertama.
Dalam mengatasi kondisi itu, Mulyadi Jaya Baya, membuat program petugas medis keliling. Program tersebut bernama “Bidan Keliling dan Manteri Keliling”.
Tim kesehatan ini, melakukan kerja kelililing secara bergantian ke desa-desa pedalaman yang medannya sulit ditempuh oleh kendaraan mobil bahkan sepeda motor. Mereka para petugas mendatangi langsung warga yang terbaring sakit maupun yang akan melahirkan.
Inovasi program penanganan medis secara keliling dan dilakukan oleh pemerintah daerah ini, merupakan yang pertama terjadi di Indonesia saat itu.
Atas keberhasilan menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan kematian bayi tersebut, menjadi proyek contoh nasional. Selanjutnya H Mulyadi Jaya Baya, dianugrah dan terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Bupati daerah tertinggal seluruh Indonesia. (***)