Baznas Banten Monitoring Dan Evaluasi Kampung Zakat

Share this article

LEBAK (leonews.co.id) – Baznas Banten melaksanakan monitoring dan evaluasi (Monev) kegiatan Kampung Zakat melalui program Zakat Community Dovelopment (ZCD) di Kp. Muhara Desa Ciladaueun Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak-Banten (11-04-2021).

Dalam mendorong program bersama, disepakatinya satu program dalam memberdayakan masyarakat melalui dana zakat, Ditjen Bimas Islam Kemenag R.I. melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf selaku Koordinator Program dan BAZNAS selaku Pelaksana Program yang didukung oleh BAZNAS di semua tingkatan dan LAZ melalui Forum Zakat (FOZ), sepakat membuat program bersama yang diberi nama dengan Kampung Zakat dan dilaksanakan di wilayah tertinggal yang terdapat di 3 wilayah bagian Indonesia sebagai representasi program itu, ketiga wilayah tersebut yaitu Indonesia Bagian Barat, Indonesia Bagian Tengah, dan Indonesia Bagian Timur.

Ada beberapa titik Kampung Zakat di Indonesia, salah satunya di Provinsi Banten yang berada di Kp. Muhara Desa Ciladaueun Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak-Banten. BAZNAS Pusat bersama BAZNAS Banten ditunjuk sebagai koordinator Kelompok Kerja (Pokja) bidang ekonomi. Program ini dilakukan pemberdayaan secara terintegrasi melalui 5 (lima) sektor yaitu ekonomi, pendidikan, dakwah, kesehatan, dan sosial-kemanusiaan dengan kemasan program Zakat Community Development (ZCD).

Mulyadi Firdaus selaku Wakil Ketua IV menuturkan bahwa kegiatan monev ini bagian dari pengawalan progres kegiatan Kampung Zakat melalui program BAZNAS yaitu Zakat Community Development (ZCD). ZCD sendiri mempunyai program pemberdayaan dengan memproduksi kripik pisang yang dikemas dengan nama ‘Banana Cinta’ (Ciladaeun untuk Nusantara). Kripik Banana Cinta terbuat dari pisang pilihan yang berasal dari kampung setempat serta dikelola dan diolah oleh masyarakat kampung setempat melalui kelompok usaha Banana Cinta.

Zakat Community Development (ZCD) merupakan sebuah program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek ekonomi dan sosial (pendidikan, kesehatan, spiritual, lingkungan dan aspek sosial lainnya). Program ZCD bertujuan untuk memperbaiki keadaan masyarakat miskin agar lebih berdaya, mandiri dan sejahtera.

Keunikan program ZCD selain menawarkan pendekatan pemberdayaan lintas sektor juga menuntut keterlibatan serta partisipasi berbagai lintas pihak. Oleh karena itu kolaborasi, sinergi, saling berbagi menjadi kata kunci di dalam implementasi program.
Program tersebut juga diharapkan dapat memberikan solusi atas keterbatasan dan kemiskinan yang ada. Mereka yang berhak mendapatkan program tersebut alih-alih dipenuhi seluruh kebutuhannya (diberi ikan), maka akan lebih baik dan produktif jika diberikan alat (kail ikan), keterampilan dan akses untuk memenuhinya secara mandiri.

Penggunaan dana zakat pada program pemberdayaan ZCD menjadi sangat penting, karena selaras dengan tujuan zakat yaitu membantu mustahik untuk memenuhi kebutuhannya, dapat memandirikan dan menyejahterakan mereka baik secara materi dan spiritual. Dengan kata lain zakat dapat mengangkat derajat dan martabat mustahik menjadi manusia yang berdaya dan bertakwa secara paripurna.

Sebagai contoh pada bidang ekonomi, maka program ZCD dapat menjadi salah satu instrument pemberdayaan masyarakat khususnya untuk tujuan pengentasan kemiskinan. Pada bidang dakwah atau keagamaan maka program ZCD dapat menjadi salah satu upaya penguatan konsistensi atas keyakinan pada Allah SWT, Rasulullaah Muhammad SAW, dan Al-Islam.

Pada bidang lainnya itu berupaya untuk menguatkan mustahik baik dari sisi pendidikan dan kesehatan, serta lingkungannya. Beberapa bidang tersebut difasilitasi oleh program ZCD untuk menjadi program kesatuan dan berkelanjutan bagi tercapainya tujuan zakat. (ujar Mulyadi).

Sementara A. Hidayat selaku Kabid. Pendistribusian dan Pendayagunaan berharap program pemberdayan ini bisa terus berkembang tidak hanya di Ciladauen, namun bisa dibentuk atau dilaksanakan di beberapa wilayah di Banten, terutama daerah tertinggal, supaya daerah tersebut bisa menjadi lingkungan yang mandiri, baik secara ekonomi, pendidikan, kesehatan, dakwah, serta mandiri untuk saling membantu satu sama lain dengan masyarakat yang berada di wilayah sekitarnya. (Humas/Nasri)


Share this article

Related posts

26 Tahun Mengabdi Pada Negeri, Dimyati Natakusumah Adalah Cermin Keteladanan Orang Tua dan Budaya Banten

Satu Dekade Bank Banten, Pengamat: Jangan Klaim ‘Karpet Merah’ Pemda Sebagai Prestasi Kerja

Sipitak dari Hokian: Kisah Ketulusan dan Kedermawanan Julianto Limans