leonews.co.id
Peristiwa

Candi Pasir di Pantai Bagedur, Banten Selatan

Ditulis Oleh Wisnu Bangun

Buih putih air laut pecah terhempas di bibir Pantai Bagedur. Ombak menggulung  dari tengah,  saling susul terus menerus seperti tak pernah lelah sepanjang waktu.

Terik matahari memancarkan cahaya  membuat air laut di Banten Selatan siang itu keemasan dan semakin menakjubkan. Betapa indahnya ciptaan-Mu Tuhan.

Ada tiga kelompok anak berusia sekitar sembilan tahun berenang dan tertawa riang. Sementara para orang tua mereka tersenyum, mengawasi dari pinggiran laut, dengan menggulung celana panjang  yang dipakainya hingga lutut.

Ada juga pasangan remaja bergandengan tangan tanpa alas kaki menyusuri pantai siang itu. Sesekali diantara mereka menunduk mengambil sesuatu yang terselip di balik halusnya pasir putih yang mereka injak.

“Mah, nanti kalo aku sudah besar mau bikin bangunan seperti ini. Kayak Candi Borobudur,” kata Banyu Widinegoro, berusia 7 tahun sambil terus menyusun gundukan pasir, kepada wanita berkulit hitam berusia sekitar 40 tahun di dekatnya. “Iyaa… sayang, makanya cepat besar dan rajin belajar, supaya kamu, bisa bikin bangunan besar yang bagus,” jawab siibu menimpali.

Banyu siang itu datang ke Pantai Bagedur, selain ditemani ayah dan ibunya juga kakak kandungnya Dellanov Widi dan saudara tirinya.

Ayahnya menceritakan, menggunakan mobil Toyota Avanza warna putih, berangkat dari tempat tinggalnya di Kota Serang,  sekitar pukul 09 pagi. Sampai di lokasi sekitar pukul 13.00, dengan kecepatan rata-rata pacu kendaraan 60 kilometer/jam.

Dengan membawa bekal makanan dari rumah. Selain nasi putih, ada ayam goreng, sambal dan  juga persediaan air putih.

Perjalanan dari rumah menuju lokasi dibuat sesantai mungkin. Di pasar Malingping yang berdekatandengan lokasi tujuan, kami sempat mampir untuk membeli makanan tambahan. Pantai ini, terletak di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak,  Provinsi Banten.

Antara lain kami membeli lemeng (makanan khas Banten selatan, yaitu ketan dicampur santan yang dimasak dalam bamboo muda). Masyarakat di wilayah Banten Selatan, biasa memakan lemeng dengan ikan tongkol goreng.

Kalau di Sumatra Barat, makanan seperti itu, disebut lamang. Namun jika di Sumatra Barat, lamang biasa dimakan dengan gulai randang daging.

Untuk masuk kelokasi pantai, kami dikenakan tariff masuk Rp 5 ribu/orang ditambah bayar parker mobil Rp 5 ribu tanpa batas waktu.

Makanan dan minuman di lokasi wisata agak lebih mahal sedikit dibandingkan dengan di luar kawasan wisata. Kendati demikian harganya masih relative murah, jika ukurannya adalah tempat wisata.

Contohnya satu kopi kemasan dalam gelas yang sudah diseduh hanya dihargai Rp 4 ribu, sedangkan satu botol minuman air mineral berukuran botol sedang dihargai Rp 5 ribu.

Sedangkan tarif toilet dan mandi bilas menggunakan air tawar setelah berenang di laut dipasang tariff Rp 10 ibu/orang. Tapi kalo mao pipis di semak-semak di belakang warung yang ada di sepanjang pantai, ya nggak bayar (Cuma hati-hati dipatok ular) he hee.

Menurut sejumlah pemilik warung, yang berjualan di Pantai Bagedur, tempat wisata tersebut ramai pada hari-hari  libur. Hari Minggu dan Hari Raya adalah jumlah pengunjung yang paling padat. Sedangkan pada hari libur biasa, apalagi hari kerja pengunjug bisa dihitung dengan jari.

Pantai Bagedur juga memiliki fasilitas tempat menginap berbentuk cottage dan kamar biasa. Kendati tempat penginapan berada di bibir pantai, namun kawasan pantai tidak dikuasai oleh pengusaha hotel.

Karena saat itu, kami tidak bermaksud bermalam di sana. Jadi kami tidak tau persis, harga sewa kamar di sana. “Sejumlah info yang belum tentu benar, tariff sewa kamar di sana perkamar berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu/malam.

Beberapa pengunjung ada juga yang menginap dan tiduran bergabung dengan pengunjung lain di warung-warung yang menyediakan bale bamboo (tempat tidur ukuran besar). Walaupun angin dari laut di kawasan pantai cukup kencang, namun suasana jadi menyenangkan karena bisa saling kenal satu dengan yang lainnya.

 

 

 

 

Related posts