leonews.co.id
Gaya Hidup Hiburan

Ketulusan Cinta Seorang Guru

Share this article

leonews.co.id – Cinta yang sering kita sebut kadang mempunyai arti dan implikasi banyak, dan kita menyebut kata cinta bukanlah sesuatu hal yang baru bagi kita semua. Sesuatu yang tidak asing lagi di telinga kita. Namun, cinta yang akan saya utarakan adalah cinta yang benar-benar suci dan tulus dari seorang pendidik.

Saya mencoba memposisikan diri seorang pendidik, pembimbing dan pengajar, dan tentunya ini sebuah pengalaman panjang ,setelah aku menempuh pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, juga aku ingat-ingat semua guruku di semua tingkatan, dan ahirnya ada kesimpulan begutu besar cintanya pada profesi dan anak didiknya.

sampai saat ini tak pernah pupus kekaguman dan rasa hormatku pada semua guruku, walaupun di ahir hayatnya ada yang jadi mitra ada yang jadi teman, bahkan yang jadi guru selamanya bagi juga ada,

ilmu yang kuperoleh hanyalah bagian kecil dari proses belajar pada sikap dan karakter kehidupan guru, ya guru yang sekarang sering dinsebutpendidik mempunyai karakter yang utuh dan dan perlu diteladani sepanjang usia jaman, karena guru bukanlah tipikal. yang pengeluh, pendendam, dan pemarah. Melainkan sebuah sosok yang meneduhkan bagi siapa saja yang melihat, kesabarannya menghadapi anak-anak yang dicap tidak bisa berubah dan bermasalah semakin mengukuhkan lencana kepahlawanan pada profesi guru.

Suatu ketika saya dihadapkan pada seorang siswa yang memeiliki prilaku di bawah standar baik tentang attitude maupun feformancenya, kala itu aku komunikasi dengan hatiku, ‘’ taman harus bagaimana kamu menyikapi siswa yang seperti ini ? Alhamdulillah aku menemukan cara yang jitu dengan memanggil nama siswa tersebut dengan menyuruh mengikuti apa yang saya ucapkan, contoh “ pak taman, jadi guru itu harus sabar atau pak taman, ingat ! bahwa tugas guru itu mendidik, membimbing dan mengjar, jika saya pintar dan baik,prilakunya, bapak sebagai guru tidak mempunyai fahala, dan ingat bapak sering berkata ‘ mengjar anak pintar semua guru bias, dan disinilah peran dan fungsi bapak ‘’

Satu sisi seperti lelucon, tapi sisi lain itu adalah terapi, walau di awal anak belum paham apa yang kita inginkan, begitulah ‘ the fower of love ‘. Ya aku menyadari caraku ini ga gampang dan diluar nalar dan logka, tapi pengalaman menuntut saya berbut demikian, sehinga wajar jika sampai sekarangpun murid-muridku yang sudah 30 tahunpun masih mengingatku dengan eces, haha, ini bukan promisis terselubung, namun iklan terang-terangan, siapa gurunya, haha guru hebat dan terahir saya mengklaim guru bermutu ( guru bermuka tua) haha.

Hal inilah yang kiranya mendorong saya memberikan kasih sayang yang lebih pada semua siswa. Mulai dari memberikan motivasi dengan cara merubah paradigma dan pribahasa yang kadung dipercaya orang, aku ga risi merubahnya, contoh hasil racikanku, ; buah jatuh harus jauh dari pohonnya, yng lainnya, ingat omongan ke dua orang tua kita, a,teh , sakola nya nu rajin, geus ibu jeung bapak ge entos, aa jeung teteh mah ulah jiga ibu jeung bapak, sepenggal kalimat itu mampu menghipnotis siswa, haha, ini adalah murni tamn lho.

Jika siswa merasa sedih dengan masalah yang dihadapinya, aku masuk ke alam pikiran mereka dengan mengatakan, ‘’ andanya sekarang dulunya saya ‘ sehingga aku bukan saja menjadi guru tetapi juga menjadi teman curhat yang tetap setia mendengarkan setiap curahan hati siswa, ya tak sedikit ada banyak anak yang berhasl mengeluarkan beban pikirannya, ya tak sedikit juga anak yang menangis terersedu sedu dan banyak juga yang punya cita-cita lebih , serta berani berpicara, dan ini yang aku mau, haha, aku didiik oleh salah satu professor Dr. Tilaar, M. Ed. Salah satu guru besar Universitas Negeri Jakarta, di SEKOLAH GURU KEBINEKAAN. Beliau menyuruh pada mahasiswanya untuk memberikan kemerdekaan dalam berpikir pada siswa-siswanya.

Bagi saya mengajar dengan menanamkan cinta . Dengan rasa cinta membuat semua anak didik merasa nyaman dan aman, walau di awal sebelum tahu taman itu siapa, mereka dikacaukan pikirannya karena melihat feformance dan fisikli saya , saya yang tidak bersahabat, itu pendapat ampir di semua sekolah yang pernah aku alami, inilah sebagai pembenaran, bahwa dalamnya lautan bisa diselamai hati orang siapa yang tahu, haha.

Ya, sementara ini sepertinya guru insfiratif itu belum menjadi moel dan sedikit sekali jumlahnya, karena guru kebanyakan dituntut untuk menyelesaikan dan menyesuaikan dengan kurikulum yang baku dan kaku, baik mateti maupun metode, lain halnya aku materi selalu dikaitkan dengan kekinian, sekalipun jauh kaitannya kita beri dengan misalnya atau contohnya.
Mengapa mereka menutup mata dengan guru-guru inspiratif yang terlindas zaman.

Mestinya ini menjadi sebuah pembelajaran besar bagi kita Masih banyak guru yang masih menanamkan cinta dihati mereka. Bahkan, mereka harus rela mengubur impian mereka demi mewujudkan impian anak didiknya. Satu hal ini mestinya membuat kita sadar akan penting pengabdian seorang guru. Bukankah keberhasilan seseorang tidak lepas dari kontribusi guru.

.Sungguhlah tidak mungkin seorang presiden, menteri, dan pengusaha, bisa mencapai impiannya kalau bukan semnagat dan kerja keras guru-gurunya.

Terakhir yang mau saya sampaikan guru bukan sebuah profesi yang segampang dalam pikiran kita.. ya ibarat politisi, jika belum beres dengn dirinya, susah untuk menempatkan visi dan misis ideal yang jadi impiannya, karena berbalut kepentingan.

Bukan factor the power of love, ya saya menjadi guru sudah tifga puluh tiga tahun walaupun statusnya guru yang baru lulus sma, tapi muridku bilangnya guru aja, haha, berbagai apresiasi dan reward telah banyak aku terima dari semua siswa baik yang berupa financial maupun immaterial dan itu tentunya bukan tujuan itu hanya implikasi fosisitf dari the fower of love.

Bersamamu aku yakin semua bisa # bapak senang berjumpa dengan anda # anda dan saya masuk syurga, kaimat penutup sebelum menutup pelajaran. (H sartaman)


Share this article

Related posts