leonews.co.id
Berita Pilihan

Wahidin Halim : Siapkan Kompetensi Untuk Cari Kerja di Banten

SERANG (leonews.co.id) – Kepada  masyarakat dari daerah lain yang bermaksud mencari kerja di Provinsi Banten,  agar benar-benar mempersiapkan kompetensinya–mengingat tingkat persaingannya sangat tinggi. Hal ini disampaikan Gubernur Banten Wahidin Halim, menyusul siaran Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Banten sebagai urutan pertama dengan jumlah pengangguran terbanyak secara nasional.

Tidak hanya itu, untuk menekan angka pengangguran yang di rilis BPS itu,  Wahidin  juga langsung melakukan Rapat terbatas (Ratas) dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Dalam ratas itu, mantan Walikota Tangerang dua priode ini  mengatakan harus menemukan solusi.

Siaran pers Kominfo Banten menyebutkan,  walaupun terjadi tren penurunan angka pengangguran di Banten dari tahun ke tahun selama kurun waktu 3 tahun terakhir, atau dalam catatan BPS bahwa pengangguran di Banten Agustus 2017 sebesar 9,28%, Agustus 2018 sebesar 8,52%, dan Agustus 2019 turun lagi hingga mencapai 8, 11%, namun faktanya menjadi persoalan ketika prosentase dibuat terbuka secara Nasional.

Dari catatan BPS,  ternyata Provinsi Banten di kategorikan memiliki angka tertinggi yang mempunya pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dalam angka pengangguran terbuka Nasional dari 7,05 juta penganggur, sebanyak 10,42 persen diantaranya merupakan lulusan SMK.

Untuk di Pulau Jawa, Jawa Barat dengan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 1,9 juta jiwa, lulusan SMK mencapai 14,53 persen. Provinsi Jawa Timur dengan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 840 ribu jiwa, sebanyak 8,65 persen diantaranya adalah lulusan SMK.

Jawa Tengah yang memiliki angka pengangguran terbuka sebanyak 820 juta jiwa, sebanyak 10,16 persen diantaranya merupakan lulusan SMK. Provinsi Banten dengan jumlah pengangguran terbuka sebanyak 490,81 ribu orang, 13,03% merupakan lulusan SMK.

Untuk lulusan SMK dalam angka pengangguran terbuka yang juga telah menjadi persoalan nasional. “Jadi memang, persoalan tersebut menjadi permasalahan nasional dan membutuhkan kerjasama semua pihak,” ungkap Wahidin.

Dari catatan itu, lanjutnya, lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), menempati urutan terbanyak yang menyumbangkan angka pengangguran di Provinsi Banten, pada tahun 2019. Siaran Pers Kominfo dan Persandian Parovinsi Banten, menyebutkan, sebanyak 35.432 jiwa atau 36,11 persen dari seluruh lulusan sekolah tingkat atas itu menjadi penyumbang angka pengangguran yang sudah ada sebelumnya.

Dalam Siaran pers itu juga disebutkan, tidak hanya siswa lulusan SLTA yang membuat angka penganggurannja di Banten menjadi panjang, tapi juga lulusan sekolah di bawahnya termasuk lulusan perguruan tinggi. Contohnya lulusan SLTP tercatat sebanyak 16.861 jiwa atau 17,18 persen dalam posisi menganggur.

Beum lagi mereka yang tidak sekolah atau tidak lulus dalam semua jenjang pendidikan. Hal ini jumlahnya mencapai 13.767 jiwa atau 14,03 persen. Sementara tingkat pendidikan lainnya seperti lulusan SD sederajat jumlahnya mencapai 13.556 jiwa atau 13,82 persen, belum tamat SD sebanyak 6.752 atau 6,88 persen.

Dari jumlah itu ternyata Diploma IV/Strata I juga tercatat  sebanyak 8.142 jiwa atau 8,30 persen tak berhasil memasuki dunia kerja. Belum lagi lulusan  Akademi/Diploma III/Sarjana sebanyak 2.566 jiwa atau 2,62 persen, Strata II sebanyak 523 jiwa atau 0,53 persen, Diploma I/II sebanyak 496 jiwa atau 0,51 persen dan strata III sebanyak 28 jiwa atau 0,03 persen. (Red 01)

 

Related posts