leonews.co.id
Berita Pilihan

Pendukung Weha-Andika Tak Mau Disebut “Relawan Jahat”

SERANG (leonews.co.id) – Di D’Wiza Hotel dan Resto Kota Serang, pada  Kamis, 30 Mei 2019 ada acara buka puasa bersama dilanjutkan dengan diskusi dengan tema “Revitalisasi dan Optimalisasi peran relawan dalam upaya percepatan pembangunan di Banten”. Dalam acara itu, yang sebelumnya merupakan pendukung Weha-Andika sekali gus menyatakan sejak saat itu, tidak lagi sebagai relawan Wahidin Halim-Andika Hazrumy.

Pemicu diselenggarakannya acara ini, diantaranya tentang beredarnya ucapan yang diduga dari Gubernur Banten Wahidin Halim di media social (Facebook) “Siapa suruh jadi relawan” dikutip dari inilahbanten.co.id.

Tidak hanya itu, memasuki tahun kedua WH-Andika menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten, tepatnya pada bulan suci Ramadhan, Wahidin Halim sebagai gubernur telah mengundang sejumlah tokoh, aktivitas  dan organisasi untuk buka puasa bersama di rumah dinasnya, namun undangan serupa tidak untuk relawan yang mengaku telah melakukan perjuangan untuk kemenangan pasangan Weha-Andika.

“Apakah kita pernah di undang,”ucap Ketua Panitia buka puasa bersama dan silaturahmi, Muhammad Fachrudin dalam sambutannnya.

Sebelumnya Relawan ini juga merupakan pendukung Wahidin Halim dan Andika Hazrumi, saat melakukan pertandingan politik pemilu gubernur Banten melawan Rano Karno-Embay Mulya Syarif 2017 lalu. Fokus dari diskusi yang diselenggarakan itu, diantaranya menuntut  janji kampanye Weha – Adika dalam jargon  Kampanye yang didaftarkan di KPU saat itu, serta dua tahun kerja mereka.

Jika pak WeHa dan pak Andika ingkar janji, maka kami pun ingkar janji pada masyarakat. Karena kami tak mau ingkar janji, maka kami akan memaksa…!!! Kami tak mau disebut sebagai *RELAWAN JAHAT* yang menipu rakyat Banten dengan janji-janji omong kosong.

Sebagai pembicara dalam diskusi Yhannu Setyawan

Berikut pernyataan relawan itu, dilansir dari inilahbanten.co.id :

Alhamdulillah, relawan WH-Andika masih bersatu. Tapi harus diingat oleh pak WeHa dan pak Andika bahwa kami bukan lagi relawan pemenangan WH-Andika. 

Dalam teori sosiologi, seperti dipaparkan kang Yhannu Setiawan dalam acara bukber itu, kami secara otomatis sudah membubarkan diri jadi relawan pemenangan WH-Andika, sejak keduanya dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten. Dan merevitalisasi diri menjadi kelompok penekan atau kelompok kepentingan (pressure grup). 

Apa kepentingan kami? Jelas kepentingan kami adalah *memaksakan* apa yang sudah dijanjikan pasangan WH-Andika di masa kampanye menjadi kenyataan. Ada dua janji WH-Andika; yaitu janji berupa jargon kampanye dan Visi Misi yang ada di KPU Banten. Serta tak ketinggalan harapan bersama bahwa dengan dipimpin oleh pak WeHa dan pak Andika, Pemprov Banten menjadi lebih baik. Indikasinya, jelas kinerja.

Kenapa kami harus memaksa?

Ingat, kami memilih pak WeHa dan pak Andika itu bukan karena cinta buta. Kami memilih pak WeHa dan pak Andika untuk memimpin Banten karena kami sepakat, sepaham dengan ide dan gagasan yang tertuang dalam Visi Misi, Jargon-Jargon Kampanye serta track record kinerja yang sudah dijanjikan. 

Jika pak WeHa dan pak Andika ingkar janji, maka kami pun ingkar janji pada masyarakat. Karena kami tak mau ingkar janji, maka kami akan memaksa…!!! Kami tak mau disebut sebagai *RELAWAN JAHAT* yang menipu rakyat Banten dengan janji-janji omong kosong.

Dalam kerangka tak ingin disebut sebagai RELAWAN JAHAT, maka bukber dan silaturahmi Relawan WH-Andika merekomendasikan: menggelar Rapat Akbar Relawan WH-Andika dengan tema Evaluasi implementasi Visi dan Misi serta Jargon Kampanye; dan Kinerja 2 tahun Wahidin Halim dan Andika Hazrumy sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten. 

Usai melaksanakan buka bersama, acara dilanjutkan dengan diskusi sebagai moderator Daddy Hartadi dan sebagai narasumber Yhannu Setyawan. (Red 01)

 

Related posts