leonews.co.id
artikel untuk leo Pariwisata UMKM

Haji Haerudin, Penyelamat Tenggelamnya Tiga Desa

HAJI. HAERUDIN (foto leonews.co.id 2020)

BANTEN (leonews.co.id) – Dua hari setelah merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 75, tepatnya tanggal 17 Gustus 2020. Hampir seluruh tetangga kampung tempat kami tinggal di wilayah Kota Serang melepaskan jenuh dan berlibur ke pantai Anyer.

Menggunakan tiga mobil bak terbuka seluruh keluarga diboyong dalam acara itu. Saya tidak termasuk dalam rombongan mereka, karena masing-masing kendaraan bermuatan penuh.

Dengan menggunakan dua sepeda motor, saya bersama keluarga memilih ke tempat lain dan bukan ke Anyer menyusul mereka. Saya bersama keluarga, memilih tujuan lain.

Saya dan keluarga menuju Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, di Kabupaten Serang. Bertetangga dengan Desa lontar ada salah satu kampong bernama Desa Berambang.

Mayoritas penduduknya, merupakan petani tambak ikan bandeng. Jadi tidak heran, bila sepanjang perjalanan di kiri-kanan ditemukan kawasan tambak yang menghampar luas.

Sejumlah warga di Desa Lontar dan Berungbang menceritakan. Dulunya (entah kapan) kawasan penduduk sangat luas, hingga agak ke tengah laut.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kampong mereka terkikis ombak (abrasi). Ratusan hektar lahan tambak serta puluhan rumah penduduk tenggelam oleh air laut akibat abrasi tersebut.

Pada tahun 2011, seorang petani tambak bernama Haji Haerudin, berinisiatif menanam mangrove bersama seorang putranya sebagai upaya penangkal abrasi. “Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa nggak ada lagi pemukiman penduduk di wilayah dua desa ini,” kata Haerudin mengenang.

Secara pelahan tanaman mangrove yang dilakukan Haerudin dan putranya, meluas hingga mencapai dua hektar. Kerja keras yang dilakukannya, terdengar hingga ke telinga Bupati Serang, Taufik Nuriman, (Tahun 2014).

Bersama stafnya, Bupati Taufik Nuriman dan rombongan, melakukan kunjungan ke lokasi tanaman mangrove tersebut. Dalam kunjungan itu, Taufik Nuriman, menemui Haji Haerudin dan langsung memberikan penghargaan atas segala upaya yang dilakukannya.

Foto leonews.co.id 2020

Setelah itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang, langsung membuat program antisipasi meluasnya abrasi. Setahun kemudian pihak Pemkab Serang, memasang bendungan batu (dam).

Pemasangan bendungan batu, tidak hanya di Desa Brambang atau di sekitar tanaman mangrove yang ditanami Haerudin saja , tapi juga hingga Desa Lontar dan Alang-alang sepanjang hamper sekitar lima kilometer.

Haji Haerudin dan putranya, boleh disebut sebagai penyelamat tenggelamnya tiga desa di Kecamatan Tirtayasa. Tanaman mangrove yang dilakukannya itu, mulai banyak dikunjungi oleh masyarakat sebagai tempat hiburan keluarga.

Selain dapat menikmati semilr angin laut di atas bebatuan yang digunakan sebagai bendungan, masyarakat pengunjung juga dapat berselviria (berfoto-red) dengan latar belakang hutan mangrove atau lautan lepas.

Foto leonews.co.id 2020

Saat ini kawasan tersebut, diberi nama “Wisata Mangrove, Jembatan Pelangi”. Di dalam kawasan, juga sudah pula disediakan toilet umum dan tempat parkir kendaraan.

Kawasan hutan mangrove tersebut, dikelola oleh pengurus RT setempat, dengan menyediakan jalan berbentuk lorong yang membelah kawasan hutan mangrove dari pintu masuk menuju pinggir laut. Lorong dibentuk menyerupai jembatan sepanjan kira-ra 300 meter dengan lebar 1,5 meter. Pinggir jembatan dicat warna-warni agar terlihat indah.

Sargawi, salah seorang petugas kawasan itu mengatakan, pada hari raya atau hari-hari libur — jumlah pengunjung bisa mencapai 500-hingga 1000 orang. “Pengeglolaan dilakukan oleh Ketua RT, namun diketahui oleh pihak kepolisian setempat,” kata Sargawi.

Kawasan hutan mangrove di Desa Brambang, Kecamatan Tirtayasa tersebut, menjadi sarana hiburan murah keluarga. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari Desa Sepatan Kabupaten Tagerang, atau sekita 40 kilometer dari Cengkareng-Jakarta.

Tiket masuknya Rp 5 ribu/orang, parker kendaraan Rp5000. Untuk satu glas kopi siap saji dikenakan Rp 4.000/gelas.

Pada tahun 2018, pihak kementerian dan kelautan berkunjung ke lokasi tanaman mangrove tersebut. Melalui Dirjen pemanfaatan laut, kawasan ini juga mendapat bantuan satu unit perahu motor yang bisa digunakan sebagai sarana tambahan fasilitas hiburan.

Untuk menaiki perahu motor tersebut, pengunjung dikenakan tarif Rp 10 ribu/orang. Perahu motor, selanjutnya akan berlayar ke tengah laut membawa penumpangnya selama lebih kurang 0,5 jam dan kembali lagi ke dermaga.

Selain itu Dirjen Penafaatan laut, juga memberikan satu menara pengawas yang di tempatkan di sekitar hutan mangrove. Ada juga sponsor lain berupa sejumlah petunjuk, yang diperoleh dari PLN dan Pertamina. (Wisnu Bangun)

DAM DAN POHON MANGROVE PENAHAN ABRASI (foto leonews.co.id 2020)

Related posts