leonews.co.id
artikel untuk leo

Terlambat Meneteskan Air Mata

Leonews.co.id- Malam tadi, Kamis 9 Juli 2020 saya baru dapat meneteskan air mata setelah 14 hari meninggalnya Ibu Timah, dalam usia lebih dari 70 tahun. Ini merupakan air mata terlambat membasahi pipi saya, setelah tetangga selang satu rumah dari tempat saya saya meninggal dunia.

Ibu Sukimah menyusul suaminya bernama Fredy, yang menghadap Illahi Robbi, terlebih dahulu setahun lalu. Sakit komplikasi, yang dideritanya mengakibatkan badan Ibu Kimah mati sebelah hingga sulit untuk bangun.
Kondisi ekonomi keluarga, menyebabkan almarhum tak dapat melakukan pengobatan medis secara oftimal hingga ajal menjemputnya. Dia dimakamkan di rerimbunan pohon bambu di samping suaminya.

Sejak malam pertama meninggal, sudah ada puluhan orang yang mengaji yasin (melakukan tahlilan-Red), untuk mendoakan– agar almarhumah dapat diampuni segala dosanya oleh Allah. Doa juga dipanjatkan semoga Allah memberikan tempat terbaik untuknya.

Tahlilan malam itu, merupakan pengajian Jumatan (Kamis malam –Red), sebagai kelanjutan dari acara sebelumnya, yakni hari pertama meninggal, kedua dan hari ketiga. Acara serupa dilakukan setiap Kamis malam, hingga hari keempat puluh.

Saya memang agak terlambat hadir mengikuti acara tahlilan malam itu, karena ada pekerjaan. Saya hadir dan bergabung dengan para pembaca doa yang belum bubaran, setelah mereka selesai melakukan pengajian.

Seorang diantara keluarga almarhum menyediakan saya segelas kopi hitam. Atas suguhan itu, saya mengucapkan terimakasih seraya mohon maaf atas keterlambatan.

Orang yang tadi melakukan pengajian belum beranjak pulang. Seperti malam sebelumnya, tahlilan dilakukan di pelataran rumah dan beralas tikar.

Usai melakukan pengajian mereka tidak langsung pulang. Ada yang ngobrol ngalor- ngidul diselingi tawa.
Saya masih terdiam. Kopi hitam yang disuguhkan belum saya minum.

Mata saya menatap ke arah lantai teras rumah, tempat almarhum pernah dibaringkan dalam keadaan sakit. Di lantai itu, Almarhum dibaringkan untuk berjemur oleh keluarganya.

Dilantai itu juga saya pernah bersalaman dengan almarhum dalam rangka Hari Raya. Wajahnya pucat, lidahnya kelu, karena hampir dua tahun menderita sakit, namun masih mau tersenyum menyambut salam saya ketika itu.
Kenangan itulah yang membuat air mata saya menetes tak terasa. Selamat jalan Mak Eep (panggilan akrab saya kepada beliau).

Semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu. Lambat atau cepat, kami juga akan menghadap sang khalik sepertimu. (Red 01)

Related posts